Selasa, 03 Juli 2012

Saya Pernah Mengalami Gangguan Obsesif kompulsif


Pagi siang itu suasana perkuliahan di fakultas kedokteran berlangsung seperti biasa, tetapi tidak bagi saya. Saya justru merasa gelisah, ada perasaan was-was yang menghinggapi pikiran saya, khawatir berbuat salah dari apa yang saya lakukan. Duduk di deretan bangku depan, membuat saya merasa was-was karena khawatir salah melakukan sesuatu yang nanti akan jadi bahan tertawaan teman-teman. Saya merasa bahwa seluruh teman-teman yang duduk di belakang saya, selain memperhatikan kuliah, juga melirik dan memperhatikan saya...terus dan terus seperti itu. Detik demi detik berjalan terasa lambat, hingga bulir-bulir keringat dingin keluar dari kulit saya. Dan di akhir kuliah baju saya basah. Beberapa teman tampak mengkhawatirkan kondisi saya dengan menanyai “Suf apakah kamu sakit? Kamu baik-baik saja kan?” Saya tidak bisa menjawab apa apa mengenai pertanyaan dari teman teman saya.
Malam hari setelah menyelesaikan aktivitas belajar, di kamar kos, bersiap tidur, dan akhirnya bisa terlelap tidur. Tiba-tiba saya terbangun, berdebar-debar, khawatir dan ragu-ragu apakah pintu kamar sudah terkunci atau belum. Saya tidak langsung bergerak, tetapi dorongan khawatir dan ragu demikian kuat untuk mendorong saya untuk bangun untuk mengecek pintu. Padahal saya ingat betul kalau sebelum tidur sudah mengunci pintu. Kalau saya tidak bangun dan melakukan pengecekan kunci pintu saya dilanda rasa cemas dan khawatir yang hebat. Akhirnya mau tidak mau bangkit mengecek pintu, dan sesuai yang saya duga pintu sudah benar-benar terkunci. Kemudian tidur kembali. Beberapa saat kemudian, terbangun dan tergegap, tiba-tiba rasa cemas melanda dalam pikiran kembali dan menghilangkan rasa kantuk. Kali ini yang menjadi bahan kecemasan adalah apakah kunci pintu sudah diputar dua kali atau cuman satu kali. Ingatan saya, sudah saya lakukan dua kali putaran kunci. Tetapi lagi-lagi pikiran pikiran cemas dan kekhawatiran berlebih benar-benar menguasai pikiran dan kembali lagi mendorong saya untuk bangun dan sekali lagi mengecek secara sadar untuk memastikan kunci pintu sudah diputar dua kali. Kembali saya berangkat tidur kembali dan bisa tidur untuk beberapa saat sebelum terbangun lagi dengan kekhawatiran daun nako kaca apakah sudah benar-benar tertutup dengan sempurna atau tidak.
Dua keadaan di atas adalah kisah nyata saya di tahun awal-awal kuliah di fakultas kedokteran, yang belakangan baru saya ketahui setelah mengikuti kuliah psikiatri (ilmu kesehatan jiwa) sebagai salah satu jenis dari penyakit jiwa yaitu gangguan kecemasan jenis obsesif kompulsif[1]. Mengapa saya bisa mengalami gangguan obsesif kompulsif seperti itu?
Secara umum munculnya gangguan jiwa, didahului sebab-sebab tertentu yang secara prinsip sebab itu adalah penyikapan yang salah terhadap peristiwa-peristiwa hidup yang menegangkan bagi seorang penderita. Perlu saya garis bawahi inti katanya adalah PENYIKAPAN YANG SALAH. Kalau melihat peristiwa yang menegangkan yang saya hadapi, bagi kebanyakan orang peristiwanya adalah peristiwa yang wajar dan mungkin dianggap remeh. Tetapi bagi saya peristiwa itu adalah sesuatu yang besar dan saya harus melakukan upaya besar secara psikologis untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian yang bagi saya itu adalah sesuatu yang sangat besar. Respons yang saya lakukan dalam menghadapi peristiwa menegangkan itu tidak cukup memadai agar saya melakukan penyesuaian besar dalam kehidupan saya. Respons yang tidak cukup memadai ini selanjutnya disebut dengan istilah DISTRESS.
Sejarah perlakuan saya ketika mengenyam pendidikan dasar, menengah, dan atas, tidak lepas dari peran ayah dan ibu, terutama peran Ayah. Ayah saya sangat care terhadap saya, bahkan terlalu berlebih, lantaran saya anak laki-laki pertama dan di tahun awal kehidupan, saya harus bertarung hidup dan mati melawan penyakit meningitis[2]. Walaupun dikenalkan mencuci baju, membersihkan rumah, ngepel, menyapu dan berangkat dan pulang sekolah sendiri, bapak saya selalu melakukan proteksi berlebih. Pendek kata, banyak hal yang seharusnya bisa saya lakukan secara mandiri “diambil alih” oleh bapak, bahkan yang paling heboh ketika ujian masuk perguruan tinggi negeri diantar “full team” satu keluarga. Problem selanjutnya bagi saya setelah harus hidup berpisah dengan orang tua selama hampir dua puluh tahun bersama, adalah proses “penyapihan” dari tanggung jawab yang selama ini diambil alih orang tua, menjadi tanggung jawab yang secara penuh menjadi beban saya. Tidak kalah hebat perubahan besar yang saya alami adalah beban belajar yang luar biasa berat. Banyak istilah yang harus dihafal sekaligus dipahami dan diaplikasikan untuk memahami konsep-konsep baru. Perubahan cara, lama dan intensitas belajar, harus saya lakukan secara besar-besaran pula yang sama sekali berbeda dengan cara belajar saat masih duduk di bangku SMA. Proses inilah yang mengakibatkan serentetan gejala gangguan kecemasan jenis obsesif kompulsif yang saya derita, akibat salah dalam mengelola emosi.


[1] Gangguan obsesif kompulsif adalah yaitu kecemasan yang mendorong penderita secara menetap untuk mengulangi pikiran atau perilaku tertentu
[2] Meningitis adalah penyakit radang akibat infeksi pada selaput pembungkus otak, berakibat penderita mengalami kejang-kejang dan mematikan atau bisa meninggalkan cacat saraf menetap seumur hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar