Kamis, 05 Juli 2012

Pilih Mana Tibun Nabawi atau Kedokteran Barat?


Mohon maaf ini tampaknya judul provokatif.
Maksud saya hanya ingin meluruskan beberapa persepsi yang keliru baik tibun nabawi sendiri maupun kedokteran barat di sisi yang lain. Sebagian persepsi yang keliru pada pihak tibun nabawi bahwa ini adalah metoda pengobatan yang kuno dan tidak relevan lagi dan “dipaksakan keilmiahannya” di satu sisi, pada sisi yang lain kedokteran barat diidentikkan dengan pengobatan kimiawi artifisial yang “mengganggu keseimbangan dalam tubuh” dan sebagainya.
Kalau boleh saya mendefinisikan tentang tibun nabawi adalah suatu sistem pengobatan terdiri dari unsur-unsur syari’at Islam yang bersifat tetap, dipadukan dengan unsur-unsur konseptual dan teknis pengobatan yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir. Jadi ada dua komponen utama yaitu komponen tetap yang tidak berubah hingga kiamat adalah komponen syari’at Islam dan komponen fleksibel yang bisa jadi mengadopsi konsep dan teknologi terkini yang ada pada masyarakat ilmiah kedokteran dan kesehatan modern atau barat. Sayangnya, akhir-akhir ini tibun nabawi sering dipersepsi dalam arti yang sempit meliputi bekam, obat-obatan herbal dari arab dan madu.
Kedokteran barat yang “berkuasa” saat ini sebenarnya mengadopsi konsep ilmu dan teknologi dari kemajuan perkembangan pengobatan terbaik yang diperoleh dari berbagai belahan daerah di seluruh penjuru dunia seiring banyaknya tanah jajahan yang mereka kuasai. Tidak sedikit obat-obatan yang dipakai dalam kedokteran barat yang berasal dari “sari-sari” tanaman Amerika latin, termasuk yang negatif rokok hingga narkoba. Sebagai contoh “sari” atau biasa dikenal ekstrak beladona yang digunakan untuk mengatasi gerakan peristaltik usus yang demikian cepat berakibat diare dan mules. Beladona adalah jenis tanaman obat yang biasa dipakai oleh suku Indian untuk mengatasi mencret. Demikian juga ganja, sebenarnya didapatkan dari kebiasaan suku Indian mengunyah-ngunyah tanaman itu untuk obat kecapean. Tetapi oleh barat, “sari” tanaman ini dimurnikan dijadikan obat-obatan penenang dan obat bius yang belakangan banyak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Demikian pula dengan rokok yang saat ini dikampanyekan dampak negatifnya juga berasal dari kebiasaan suku Indian. Bahkan konsep tentang sanitasi seperti saluran air bersih dan pengelolaan limbah termasuk WC peradaban barat tidak patut melupakan jasa kemajuan peradaban umat Islam waktu itu. Jadi kalau dibuat perumpamaan kedokteran barat seperti sebuah pohon, dimana akarnya menjalar dari berbagai belahan dunia mengambil sari-sari terbaik untuk membangun bagian-bagian pohon tersebut untuk terus tumbuh menjulang ke atas.
Meskipun demikian, ilmu dan teknologi kedokteran barat terus maju berkat riset yang berkelanjutan dari zaman mereka mulai tercerahkan setelah berinteraksi dengan Islam pasca perang salib hingga saat ini. Hanya sayangnya, ideologi yang mendasari ilmu dan teknologi kedokteran itu adalah ideologi sekuler dan penyerahan arah perkembangan sepenuhnya kepada pasar terutama pasar modal dan keuangan. Sehingga salah satu dampaknya adalah memunculkan “bualan janji” semua bisa diatasi dengan ilmu dan teknologi kedokteran modern sebagai bentuk dari pengaruh sekuler, dan kesenjangan yang curam antara pundi-pundi keuangan perusahaan farmasi dengan manfaat kesehatan yang dirasakan oleh masyarakat miskin dan dhuafa sebagai dampak dari tekanan pasar (kapitalisme) pada perusahaan-perusahan pemroduksi obat. Akibatnya banyak orang sakit yang putus asa dan stress karena apa yang “dijanjikan” yakni kesembuhan dan kesempurnaan tidak kunjung datang. Dampaknya banyak pasien yang minta “dibunuh” dengan penghalusan bahasa eutanasia kepada dokter karena sudah tidak kuat lagi menahan penderitaan sakit. Tidak sedikit pula dokter dengan mencari-cari alasan filosofis etis, akhirnya mendapatkan “pembenaran” melakukannya. Sementara di belahan dunia yang lain banyak orang yang tidak mendapatkan fasilitas pengobatan yang seharusnya mampu mengentaskannya dari penderitaan sakit, lantaran obat yang seharusnya dibutuhkan tidak dapat diraih disebabkan hak paten terlalu angkuh untuk direngkuh harganya, bahkan negaranya pun juga tidak mampu membelinya. Sehingga saat ini mulai muncul arus dari masyarakat mencari alternatif-alternatif pengobatan yang tidak menggunakan sistem kedokteran barat. Namun sayangnya, tidak sedikit pula masyarakat yang tertipu setelah menghabiskan berjuta-juta uang, ternyata juga tidak kunjung pulih dan sehat kembali. Belum lagi ancaman penyelewengan akidah dari pengobatan alternatif itu menjadi beban berat tersendiri bagi kaum muslimin.

Memahami sehat dan sakit antara Islam dengan Barat
Makna sehat secara komprehensif dari Barat baru disadari akhir-akhir ini kurang lebih pada dekade 90-an abad 20 kemarin. Kalau menilik definisi sehat yang dipublikasikan oleh WHO (World Health Organization), yakni suatu keadaan yang baik (well being) yang tidak saja bebas dari penyakit, tetapi juga meliputi aspek mental dan kenyamanan dalam menjalankan norma-norma sosial yang ada di masyarakat.
Pandangan mengenai penanganan sakit dalam Islam lebih luas dan lebih komprehensif bahkan menyentuh sampai pada tataran amalan hati, dengan pertanyaan apakah hati mereka telah sakit atau dalam hatinya ada penyakit (QS An-Nur: 48 – 50; QS Al-Ahzab: 32). Sementara itu sakit fisik menjadi bahasan hingga pada ibadah-ibadah tertentu ada dispensasi pengerjaannya bila sakit. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa walaupun kedokteran barat telah membuat batasan sehat dalam cakupan lebih luas, namun tetap saja belum menyentuh sisi amalan hati apalagi yang berkenaan dengan ketauhidan.
Bagaimana mengambil sikap?
Harus diakui bahwa kedokteran barat mempunyai keunggulan dalam penanganan infeksi seperti telah ditemukannya antibiotik, antivirus, antiparasit dan antimikroba, demikian juga dengan traumatologi dengan teknik-teknik pembedahan yang tidak sedikit perannya dalam menyelamatkan nyawa. Namun di sisi lain, penyakit-penyakit degeneratif dan kronis, dimana kedokteran barat “kewalahan” membuat peluang masih terbuka lebar bagi sistem-sistem pengobatan lainnya untuk memberikan kontribusinya. Untuk hal ini, WHO memberi ruang dalam sistem kedokteran modern dengan istilah kedokteran komplementer. Hanya saja yang dominan saat ini masih akupunctur dan pengobatan lainnya dari Cina. Tibun nabawi juga mengambil sisi positif kemajuan kedokteran barat seperti penggunaan jarum-jarum dari baja stainless yang telah tersterilisasi dengan sempurna, sehingga pasca penusukan tidak menambah infeksi pada kulit. Demikian juga, ini sekaligus tantangan bagi kita untuk “mengobyektivikasi” pengobatan sistem tibun nabawi agar bisa diterima secara luas di kalangan masyarakat ilmiah kedokteran. Beberapa tanaman tradisional Indonesia telah mendapatkan tempat yang terhormat di kalangan dokter di Indonesia bahkan sudah diresepkan secara luas, yaitu ekstrak daun meniran yang dibuat dalam bentuk kapsul dan sirup untuk meningkatkan daya tahan tubuh saat diserang infeksi. Memang butuh perjuangan yang panjang untuk hal tersebut. Setidaknya harus melewati 4 fase pengujian, mulai dari pengujian pada binatang, pada sukarelawan untuk menilai toksisitasnya, pada penderita dalam skala terbatas dan dibawah pengawasan ahli secara ketat, dan akhirnya dikonsumsi pada masyarakat secara luas.
Wallahua’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar