Kamis, 21 April 2011

Gembrot, Gemuk, Obesitas

Istilah gembrot atau kegemukan atau obesitas secara garis besarnya adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berat badannya melebihi kebanyakan orang. Secara kasat mata orang gemuk terlihat dari bentuk tubuhnya yang tidak proporsional, yaitu cenderung membulat mendekati bola. Karena bentuknya yang membulat bahkan dalam istilah yang kasar menggelambir, membuatnya secara kosmetik tidak “indah”. Berbagai upaya dilakukan seperti program diet ekstra ketat, olah raga ekstra keras, minum ramuan herbal, akupungtur, bedah plastik, minum obat-obatan pelangsing baik dari dokter hingga pengobatan alternatif yang tidak jelas jluntrungnya dan datang ke “orang pintar” yang seringkali tidak rasional.
Lalu bagaimana sih seharusnya menurunkan berat badan yang ideal, relatif permanen hasilnya, aman dan “nyaman” ketika berjuang mendapatkan bentuk tubuh yang ideal? Jawabannya relatif dan tidak ada yang pasti! Tetapi di dunia ini yang pasti adalah TIDAK ADA YANG INSTAN!Sayangnya inilah yang sering dieksploitasi untuk kepentingan komersial akhir-akhir ini.....
Penanganan obesitas.. yang penting bukan masalah kosmetiknya, tetapi dampak jangka panjangnya yang buruk bagi kualitas kehidupan seseorang... karena itu butuh pembahasan yang komprehensif mengenai masalah ini.. wallahua'lam

Rabu, 13 April 2011

Semua bermula dari perut

Al-Tirmidzi meriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib yang mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Perbuatan manusia yang paling jelek dalam memenuhi bejana adalah memenuhi perut. Karena manusia cukup memakan beberapa suap untuk menguatkan tulangnya. Jika tidak memberatkan, sebaiknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara (napas). Al-Tirmidzi berkomentar, “hadits ini berkualitas hasan sahih,”

Ibnu Majah dalam kitabnya juga meriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib yang mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Perbuatan manusia yang paling jelek dalam memenuhi bejana adalah memenuhi perut. Manusia cukup memakan beberapa suap untuk menguatkan tulangnya. Jika ia mampu mengendalikan diri, sebaiknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara (napas).”

Dari perut bermula munculnya penyakit

Dalam sebuah seminar tentang kedokteran ada sebuah pernyataan menarik dari pembicara yang merupakan dokter spesialis jantung dan sudah menyandang gelar doktor dan profesor. Pernyataan yang sekaligus pertanyaan dari sang Profesor itu adalah “bagaiaman Anda tahu kalau Anda mengalami obesitas dalam waktu kurang dari satu menit?” Sang Profesor diam sejenak, memberi kesempatan kepada audiens untuk berpikir. “Gimana? Sudah dapat jawabannya?” Kemudian beliau melanjutkan ucapannya, “caranya mudah... cukup Anda berdiri tegak, kemudian lirik ke bawah, kemudian Anda perhatikan apakah kaki Anda masih bisa terlihat jelas?” “Kalau Anda masih bisa melihat jelas kaki Anda berarti Anda bukan seorang yang mengalami obesitas, tetapi bila tidak itu tandanya Anda mengalami obesitas.” Hening sejenak... kemudian serentak audiens tertawa lepas “ha ha ha ha”. Ternyata setelah saya bayangkan sendiri, bila perut kita gendut, maka saat melirik ke bawah, jelas kaki kita tidak akan terlihat karena terhalang pandangannya oleh perut kita yang membuncit.

Seminar tersebut sedang membicarakan perkembangan terkini penanganan penyakit jantung koroner, dan obesitas merupakan faktor risiko terkuat dan termasif saat ini, karena di berbagai belahan dunia saat ini menghadapi permasalahan yang sama yaitu “wabah” kegemukan.

Bila saya track back pengalaman hidup saya, saat masih kanak-kanak hingga remaja, saya masih ingat betul, bagaimana ibu saya mengelola makanan buat kami sekeluarga. Buat keluarga saya waktu itu, satu butir telor, dicampur dengan tepung, air dan sayuran dan bumbu-bumbu yang lain, ternyata cukup untuk lima orang anaknya. Keadaan ini berbeda dengan pengalaman yang dialami anak-anak saya saat ini, sekali porsi makan satu butir telor sendiri tidak dibagi, sehari tiga kali. Ketika pertemuan dengan sesama teman sejawat, atau saat pertemuan RT, atau pertemuan-pertemuan lainnya yang merupakan kesempatan sharing berbagai hal dan melakukan saling cocok-cocokkan, ternyata mempunyai pengalaman yang serupa. Pemenuhan kebutuhan telor atau protein dan lemak bagi keluarga kita saat ini tidak sekedar memenuhi kebutuhan dasar, melainkan berlimpah-limpah.

Dampaknya secara umum dalam masyarakat yang lebih luas, dibandingkan dengan saat saya masih SD ataupun SMP hingga SMA, sangat jarang dijumpai orang gendut. Tetapi sekarang, orang gendut relatif sering dijumpai. Kalau ditelusuri lebih lanjut data-data dari berbagai artikel jumlah orang gendut atau seperti istilah yang disebut di atas yaitu obesitas, jumlahnya terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Jadi dapat dikatakan meluasnya “wabah” obesitas yang berdampak pada berbagaimacam penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, stroke dan komplikasi yang menyertainya semuanya berasal dari manajemen perut yang salah karena pola makan yang dikonsumsi tidak berimbang.

Sebagaimana yang ditulis oleh Malcolm Gladwell[1], fenomena lain yang dikaitkan dengan konsumsi lemak berlebih pada anak-anak menjelang remaja putri, adalah usia pertama menstruasi atau orang medis biasa menyebutnya dengan menarche, menjadi semakin lebih muda. Dalam buku “What the Dog Saw” tersebut Malcolm Gladwell menceritakan seorang pakar kedokteran yang bernama Strassman yang menyelidiki pola menstruasi wanita pada suku Dogon di Mali Afrika. Dalam usahanya untuk mendalami perilaku dan sikap suku itu terhadap menstruasi wanita, sengaja Strassman dan rekannya menginap dan berbaur dengan kehidupan sehari-hari suku itu dalam periode waktu tertentu hingga ia mendapatkan informasi yang utuh dan memadai. Strassman terselamatkan dari hidangan istimewa suku itu yaitu memakan tikus panggang, yang digambarkan bagaimana kumis tikus itu hangus. Dalam kepercayaan suku itu, orang asing tidak boleh makan makanan suku asli, sehingga dia terbebas dari “kewajiban” memakan tikus panggang.

Kembali pada penyelidikan sikap suku Dogon terhadap menstruasi pada wanita. Terlepas dari apa pun alasannya, dalam suku Dogon, setiap wanita yang sedang menstruasi dikumpulkan dalam satu rumah khusus. Jadi wanita yang sedang menstruasi dalam berbagai usia pada saat malam tidur di rumah khusus itu hingga pagi harinya. Pola ini terus berlangsung hingga menstruasi mereka berhenti. Keadaan ini membuat Strassman lebih mudah melakukan interview, mengumpulkan sampel air kencing serta mencatat segala sesuatu yang berkaitan dengan menstruasi pada suku Dogon tersebut. Yang menarik dari hasil pengamatan Strassman, di suku Dogon, rerata menstruasi pertama pada usia sebelas tahun, dan seumur hidupnya wanita suku Dogon mengalami menstruasi seratus kali. Keadaan ini berbeda dengan yang didapati di barat dengan pola makan lebih banyak lemak dalam makanannya, dimana menarche (menstruasi untuk pertama kali) pada usia lebih muda yaitu usia 9 tahunan, dan sepanjang hidupnya mengalami menstruasi sebanyak tiga ratus lima puluh sampai empat ratus kali. Lebih lanjut pola menstruasi seperti di barat meningkatkan risiko kanker rahim, kanker payudara dan kanker indung telur.

Jadi secara sederhananya dapat dikatakan pola menstruasi barat yang meningkatkan risiko kanker rahim, kanker indung telur dan kanker payudara berawal dari kesalahan manajemen perut karena memasukkan makanan yang tidak berimbang.

Mengejar untung dengan “meracuni” makanan

Selanjutnya dikatakan bahwa, perut merupakan organ yang berbentuk bejana yang terus saja menerima berbagai macam benda atau zat yang dimasukkan kepadanya. Akhir-akhir ini dalam industri makanan berbagai macam essence membuat makanan yang dihasilkannya menjadi menarik dan meningkatkan cita rasa dan selera makan. Namun sayangnya banyak perusahaan yang nakal memasukkan bahan-bahan makanan yang membahayakan ke dalam makanan yang dijual. Demi mengejar keuntungan besar sebagian perusahaan yang bergerak dalam usaha makanan menyediakan bahan makanan yang berkualitas rendah kedalam produk makanan mereka. Sebagian memasukkan pewarna tekstil yang murah tetapi menghasilkan warna yang menggugah selera ke dalam makanan. Sebagian lagi memasukkan pemutih atau pencerah makanan ke dalam makanan gorengan sehingga gorengan berkesan bersih dan cerah. Sebagian lagi dalam produksi memasukkan bahan-bahan yang tidak layak untuk dikonsumsi manusia, seperti udang busuk yang sudah ditumbuhi larva lalat, menambah dedak, atau formalin dan boraks. Bahkan rokok pun yang jelas merugikan kesehatan tidak luput dengan pemakaian essence dalam racikan sausnya. Ironisnya semua ini termasuk makanan yang disukai, dan masih kurangnya pendidikan kesehatan mengenai bahaya makanan yang berkualitas rendah seperti itu.

Berkaitan dengan essence ini, saya memunyai pengalaman menarik. Di suatu siang yang sangat terik, saat itu saya sedang menunggu perbaikan sepeda motor saya di bengkel resmi merek perusahaan penghasil sepeda motor itu. Kebetulan bengkel itu berada di dekat orang yang berjualan es dan dekat dengan sebuah sekolah menengah kejuruan. Karena suasana panas, saya tergoda untuk membeli es degan yang dijajakan oleh penjual es tersebut. Saya meneguk pada tegukan pertama, terasa ada yang aneh dari rasa es degan tersebut. Aroma vanila dari sirup memang sedap, tetapi saat merasuki sela-sela serabut lidah, terasa sensasi pahit dan aneh. Tapi saat itu tetap saya teruskan minum hingga tetes terakhir. Kemudian pulang menjalani kehidupan seperti biasa. Malam harinya baru terasa, tenggorokan sakit buat menelan, badan demam dan pegel-pegel. Pendek cerita saya menderita radang tenggorokan dengan sebab essence rasa manis dari es degan yang saya konsumsi di siang harinya.

Pada makanan sehat pun juga tidak luput dari pengelolaan makanan yang berkualitas rendah. Secara alami sayuran yang dibudidayakan manusia tidak luput dari hama serangga. Untuk itu diperlukan obat-obatan dalam bentuk semprotan untuk membasmi serangga. Dengan alasan lebih murah sebagian petani atau produsen produk-produk pertanian disinyalir masih menggunakan DDT sebagai pestisida / pembunuh serangga. Yang menjadi keprihatinan kita adalah bahwa waktu paruh DDT ini lebih dari lima tahun bahkan masih bisa bertahan dalam tubuh manusia hingga puluhan tahun. Karena karakteristiknya yang seperti itu, maka seseorang yang mengonsumsi sayuran dan masih mengandung sisa DDT dalam sayuran pada tubuhnya dalam jangka waktu yang panjang akan terakumulasi DDT yang mungkin dalam dosis membahayakan kesehatan tubuh. DDT yang lama masih belum terurai, terus dan terus ditambah DDT baru sebagai akibat konsumsi sayur atau buah-buahan yang mengandung sisa DDT.

Di dunia peternakan pun sebagai sumber makanan hewani yang dikonsumsi manusia saat ini tidak luput dari hal-hal yang berbau instan dan serba cepat. Saya bisa berkata demikian, karena bapak saya juga beternak ayam broiler atau ayam potong. Kalau mau jujur ayam broiler atau ayam potong yang siap dikonsumsi ini dari sudut pandang usia, termasuk dalam kategori ayam “anak-anak”. Dikatakan “anak-anak” karena kalau dibiarkan terus hidup dalam arti tidak disembelih, dalam usia dua tahun tinggi ayam ini bisa mencapai satu meter. Karena “dikejar jam tayang” agar pada usia tiga bulan bisa dipanen, sedangkan ayam ini masih kanak-kanak yang belum sempurna sistem pertahanan tubuhnya, pada saat yang sama mereka dibesarkan tanpa asuhan induk, maka harus dijaga ketat kesehatan dan ketahanan tubuhnya. Untuk itu anak-anak ayam ini digelontor dengan multivitamin, diberi antibiotik bila sakit, bahkan keadaan ini masih terus dipertahankan saat siap “dipanen”. Dapat dibayangkan dalam tubuh anak ayam yang disembelih ini masih terdapat sisa antibiotik dan multivitamin “dosis tinggi”, kemudian dikonsumsi manusia. Walaupun saya belum menjumpai penelitian yang mengukur dosis antibiotik atau multivitamin dalam darah manusia yang mengonsumsi ayam “instan” potong ini, secara logika dapat dikatakan mengonsumsi ayam “instan” potong dalam taraf tertentu sama dengan mengonsumsi antibiotik dan multivitamin. Namun demikian, belum jelas data mengenai dampaknya pada kesehatan manusia secara luas.

Sikap tidak bertanggung jawab terhadap perutnya sendiri

Suatu malam tiga orang laki-laki yang sudah akrab menjalankan aktivitas rutin mereka untuk menghabiskan malam nan larut hingga pagi hari. Malam itu begitu berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Bila malam-malam sebelumnya aktivitas perjudian mereka, yang dipertaruhkan adalah sejumlah uang atau barang-barang berharga lainnya, terkadang bila perlu mengambil barang berharga yang esok harinya membuat beberapa tetangga mengeluh kehilangan barang karena dicuri. Tetapi malam itu, yang mereka pertaruhkan adalah meminum tape olie. Tape olie? Mungkin anda sama dengan saya terkejut mendengar tape olie diminum. Yah itulah kenyataannya. Pagi harinya seluruh desa dibuat heboh, terperanjat dan tidak percaya dengan yang terjadi. Dua orang dari mereka tewas, sementara satu orang bisa terselamatkan atas izin Allah SWT, walaupun harus dirawat di bagian perawatan intensif / Intensive Care Unit (ICU) selama beberapa hari. Satu orang yang lolos dari peristiwa maut itu, setahun berikutnya tidak dapat lolos dari maut, ketika sebuah truk besar blong remnya sehingga terhempas ke kanan dan kiri melibas tiang traffic light termasuk satu orang yang sebelumnya lolos dari maut minum tape olie.

Barusan, kita lihat contoh ekstrim orang yang tidak bertanggung jawab terhadap perutnya sendiri. Dalam taraf yang lebih ringan, masing-masing kita minimal memulai dengan penuh kesadaran ketika akan mengonsumsi sesuatu makanan atau minuman dan dampaknya bagi kesehatan dirinya baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Bagaimanapun juga tubuh kita memunyai hak sekaligus kewajiban kita untuk memenuhinya, karena ia akan dipertanggungjawabkan kelak di hari pembalasan.



[1] Malcolm Gladwell; 2009; What the Dog Saw and other adventure; edisi Indonesia, 2010 What the Dog Saw dan Petualangan-petualangan Lainnya, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta