Sabtu, 18 April 2015

Perilaku yang berisiko kegemukan



11. Perilaku kurang gerak seperti menonton TV atau game 3 – 4 jam sehari, jarang beraktivitas rumah tangga, jarang atau tidak pernah jalan kaki.[1] Di Indonesia perilaku aktif olahraga hanya dilakukan oleh 6% orang yang berusia di atas 15 tahun.[2] Saya sendiri kebetulan bekerja di bagian kesehatan masyarakat dan kedoktera keluarga, pernah melakukan survei tentang perilaku nonton TV, tidak sedikit saya menjumpai ibu-ibu rumah tangga nonton TV delapan jam sehari! Kayaknya nonton TV dari sinetron ke sinetron. Perilaku yang hampir mirip untuk anak remaja dalam konteks sekarang, adalah media sosial seperti facebook, twitter   dan semacamnya serta game-game on line memperbanyak aktivitas remaja untuk duduk, kurang aktivitas olah raganya.
22.  Minum jus buah setiap hari.[3] Sepintas lalu makan atau minum jus identik dengan serat tinggi, tetapi yang sering dilupakan adalah kandungan gula di jus tersebut. Secara mendasar terdapat buah-buahan yang mengandung gula lebih tinggi seperti mangga, jeruk, dan rambutan.
33. Makan gorengan setiap hari, minum soft drink non diet, mengonsumsi western fast food lebih dari sekali per minggu, mengonsumsi permen dan kripik kentang ³ 1x seminggu, mengonsumsi mie instan ³ 1x seminggu bagi anak laki-laki.[4] Untuk kasus soft drink, saya mempunyai pengalaman seorang wanita usia 50an tahun sebenarnya tidak termasuk gemuk dalam pandangan mata, tetapi yang menarik adalah beliau tersebut kadar trigliseridanya selalu tinggi terus. Belakangan baru ketahuan, ternyata beliau mengonsumsi soft drink minimal satu botol sehari. Untuk menyuplai kebutuhannya tersebut, beliau menyediakan lebih dari dua krat minuman soft drink.
44. Membeli makan siang di sekolah.[5] Permasalahan jajan di sekolah adalah pengendalian jenis makanan yang disajikan dan pengendalian jumlah makanan yang dikonsumsi oleh anak. Jenis makanan yang dijajakan serta kualitas makanan ini harus menjadi perhatian utama sekolah atau dinas kesehatan lewat puskesmas. Pekerjaan tersulit adalah melakukan pembinaan dengan output bahwa penjaja makanan anak sekolah memperbaiki kualitas makanan yang dijajakan. Permasalahan selanjutnya yang timbul membantu kreativitas penjual makanan yaitu menyajikan makanan berkualitas, mengundang selera makan anak tetapi dari bahan-bahan alami yang murah. Dalam hal pengendalian nutrisi bagi anak sekolah harus memperhatikan keseimbangan, jangan sampai anak mengalami nutrisi kurang atau nutrisi berlebih, dua-duanya tidak baik bagi kesehatan anak. Nutrisi kurang berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak, nutrisi lebih membuat makanan menjadi “racun” yang membuat anak saat menjadi dewasa lebih berisiko menderita penyakit degeneratif lebih dini dari yang seharusnya.
  5. Konsumsi serat yang kurang, di Indonesia konsumsi serat rata-rata 10 gr/hari, jauh lebih rendah dari kecukupan sebesar 30 gr/hr.[6] Seorang teman sejawat yang ahli gizi memberikan gambaran yang sederhana untuk menunjukkan ukuran kebutuhan serat bagi kita setiap harinya. Beliau mengatakan bahwa, setiap makan, kebutuhan serat ditunjukkan dengan sayur (ampasnya bukan kuahnya) jumlahnya adalah dua pertiga gelas air minum dalam kemasan setiap kali kita makan. Lebih lanjut, beliau menjelaskan serat dibagi dua golongan yaitu serat tidak larut seperti yang terdapat dalam sayur-sayuran berfungsi protektif terhadap kanker kolon, selanjutnya serat larut seperti yang terdapat dalam buah-buahan, rumput laut dan agar-agar, mempunyai fungsi membantu menghambat penyerapan kolesterol di dalam usus.


[1] Power, C., Jefferis, B.J.M.H (2002) Fetal environment and subsequent obesity: a study of maternal smoking, Int J Epid, 31:413 – 419
[2] Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2007) RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI 2006 - 2010
[3] Tanasescu, M, Ferris, A.M., Himmelgreen,D.A., Rodriguez N., Escamilla, R.P., (2000)Biobehavioral Factors Are Associated with Obesity in Puerto Rican Children, J. Nutr. 130:1734–1742
[4] Hilsen, M., Eikemo, T.A., Bere, E., (2010) Healthy and unhealthy eating at lower secondary school in Norway, Scand J Public Health 38: 7
[5] Veugelers, P.J., Fitzgerald, A.L (2005) Prevalence of and risk factors for childhood overweight and obesity, CMAJ;173(6):607-13
[6] Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2007) RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI 2006 - 2010

Jumat, 12 Juli 2013

Perjalanan nasib kesehatan Anda sampai lansia nanti ditentukan saat Anda di dalam perut ibu Anda



Tiga kota di Inggris Hertfordshire, Preston dan Sheffield, telah menjadi tempat penelitian David J. P. Barker and Phillipa M. Clark. Barker dan Clark[1], melakukan penelitian perjalanan kesehatan orang Inggris yang lahir antara tahun 1911 sampai dengan tahun 1930. Sebagaimana telah diketahui tahun-tahun tersebut adalah tahun-tahun kritis terjadinya perang dunia pertama dan menjelang terjadinya perang dunia kedua. Dalam keadaan demikian bisa dibayangkan bagaimana sulitnya kehidupan yang dijalani oleh para ibu yang sedang hamil. Bila lebih dirinci pada saat terjadi perang, fasilitas infrastruktur seperti jembatan, jalan, gudang logistik dan tidak sedikit rumah-rumah penduduk ikut kena sasaran amukan peperangan. Maka akibatnya logistik makanan bergizi semakin langka. Kondisi kelaparan menjadi pemandangan yang umum pada periode waktu tersebut. Permasalahannya adalah tidak sedikit dari orang-orang tersebut adalah para ibu yang sedang hamil dari berbagai usia kehamilan. Usia kehamilan dalam terminologi (peristilahan) kedokteran dibagi dalam tiga periode. Kalau orang awam mengatakan usia kehamilan sembilan bulan, tetapi dalam istilah kedokteran dikenal dengan trimester atau di-Indonesiakan triwulanan.
Yang menarik dalam pelayanan kesehatan di Inggris adalah catatan kesehatan para ibu hamil, berat badan ibu setiap trimester, berapa berat badan dan panjang / tinggi badan anak, catatan sakit, sampai dewasa hingga matinya masih tertata rapi. Sehingga Barker dan Clark di tahun 1990-an masih bisa melacak dan melakukan review ribuan catatan kesehatan orang-orang yang lahir di tahun 1911 – 1930, sejak dalam kandungan, kelahiran, tahun pertama setelah lahir dan catatan kesehatan lainnya hingga kematiannya dengan baik.  Secara ringkas, kesimpulan hasil penelitian yang dilakukan oleh Barker dan Clark dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel. Kekurangan gizi pada saat kehamilan beserta dampaknya di kehidupan dewasa
Trimester kehamilan saat janin kekurangan nutrisi
Pada saat kelahiran
Berat badan tahun kesatu
Kehidupan dewasa
Sebab kematian
Berat badan
Proporsi tubuh
Trimester pertama
(terjadi pengaturan susut pertumbuhan)
Kurang
Proporsional kecil
Kurang
·   ­ Tensi darah
·   Stroke hemoragik (perdarahan)
Trimester kedua
(terjadi gangguan hubungan janin tali pusat dan resistensi insulin)
Kurang
Kurus
Normal
·   ­ Tensi darah
·   Diabetes
·   Penyakit Jantung Koroner
Trimester ketiga
(pertahankan pertumbuhan otak, korbankan pertumbuhan badan)
Normal
Pendek
Kurang
·   ­ Tensi darah
·   Kolesterol LDL naik
·   Fibrinogen naik
·   Penyakit Jantung Koroner
·   Stroke trombotik

“Pemrograman ulang”[1] sel-sel janin ketika berada dalam lingkungan kekurangan gizi
Prinsip umum yang mendasari perubahan struktural sel baik ukuran maupun kapasitas kerjanya, adalah lingkungan kekurangan gizi membuat sel-sel janin yang “diberikan kewajiban” berkembang untuk menghasilkan individu baru, tetapi kekurangan bahan-bahan nutrisi vital yang diperlukan. Akibatnya sel-sel janin ini mengalami pemrograman ulang. Pemrograman ulang ini utamanya ditingkat gen atau DNAnya. Pendek kata, pemrograman ulang ini membuat sel-sel ini mengalami penyusutan ukuran, kebutuhan bahan metabolisme dasar, dan perangkat-perangkat seluler dan molekuler lainnya. Jadi dapat dikatakan, sel-sel janin di”stel” ulang menjadi lebih kecil dengan kebutuhan energi dan nutrisi yang lebih rendah. Ternyata aturan “stelan” kecil dalam ukuran sel dan aktivitas metabolismenya tetap berlangsung sampai akhir hayat. Bila dalam perkembangan selanjutnya, individu ini diberikan nutrisi yang normal sebagaimana orang pada umumnya, maka bagi individu dengan “stelan” kecil ini, di tingkat sel dan molekulernya sudah “kebanjiran” nutrisi. Kondisi “kebanjiran” nutrisi, membuat sel-sel yang sudah “terstel” kecil, harus bekerja ekstra keras untuk memroses nutrisi yang berlebihan tersebut. Lebih lanjut, selayaknya mesin “kecil” yang harus bekerja keras untuk menghasilkan tenaga sebagaimana mesin yang lebih “besar”, maka mesin “kecil” ini akan cepat mengalami overhaul. Maka didapatkan individu yang “distel” kecil dalam janin, ketika besar diberikan nutrisi dalam kualitas dan kuantitas normal, membuat sel-sel tubuhnya cepat aus. Kondisi cepat aus ini dikenal dengan istilah penyakit degeneratif. Penyakit degeneratif ini meliputi: hipertensi (cepat aus di pembuluh darahnya), diabetes (cepat aus di kelenjar beta pankreas), penyakit jantung koroner (cepat aus di organ jantung dan pembuluh darah jantung) dan stroke (cepat aus di pembuluh darah otak).


[1] Clive Osmond and David J.P. Barker, Fetal, Infant, and Childhood Growth Are Predictors of Coronary Heart Disease, Diabetes, and Hypertension in Adult Men and Women, Environ Health Perspect 1 08(suppl 3):545-553 (2000)

[1] David J. P. Barker and Phillipa M. Clark, Fetal undernutrition and disease in later life, Reviews of Reproduction (1997) 2, 105–112