Sabtu, 01 Januari 2011

Gangguan Cemas dan Depresi bagian II

présï

dasarnya adalah perasaan sedih

ini sedih normal atau dÊprÉsi ya?

Setiap kita pernah mengalami sedih. Sedih karena tidak tercapai atau terpenuhi apa yang sangat kita harapkan dan inginkan. Sedih karena tidak lulus ujian sekolah, tidak lulus seleksi mahasiswa baru, tidak lulus seleksi menjadi suami atau istri dari cewek atau cowok yang menjadi idaman. Atau sedih karena kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai dan sayangi. Perasaan yang muncul seperti itu adalah perasaan yang normal bila hanya berlangsung sesaat dan hilang tak berbekas. Inilah karunia dari Allah mengapa kita diberikan sifat mudah lupa. Coba anda bayangkan kalo rasa sedih anda sejak di waktu kanak-kanak tidak terlupakan hingga saat sekarang yang mungkin anda berada fase remaja, pemuda, menjadi bapak/ibu atau bahkan kakek/nenek, maka betapa tersiksanya hidup ini bukan?

Lalu bagaimana bila rasa sedih itu berkepanjangan dan berlarut-larut, maka ia akan sangat mengganggu thó! Tidak ada gairah hidup, merasa tidak ada harapan menghadapi hari esok, merasa madesu ; masa depan suram, tidak punya semangat berjuang untuk hidup. Rencana-rencana yang sudah dicanangkan menjadi berantakan. Kita akhirnya kehilangan tahapan-tahapan hidup yang harus kita lalui agar kita bisa disebut orang dalam kategori orang yang berhasil atau sukses.

Pada saat inilah baru dikatakan perasaan sedih menjadi suatu gangguan atau penyakit. Untuk jelasnya mari kita semua … terutama yang dengan tekun menyusuri dan memelototi tulisan dan ilustrasi-ilustrasi dalam uraian ke depan hingga tuntas..tas..tas…tass! … berenang-renang … berlenggak-lenggok … ke sana dan kemari … menyelami apa depresi itu, bagaimana ia bisa muncul, apa saja gejala yang muncul, bagaimana dokter mê-nêgak-in diagnosis depresi, apa yang bisa dilakukan seseorang kalo ia ternyata menderita gangguan depresi. Beberapa bagian dicampur antara cemas dan depresi coz (karena) penanganannya hampir mirip.

Dan terakhir marilah kita semua berdoa dengan tulus, khidmad serta penuh keikhlasan agar penulis, ilustrator, editor, pimpinan beserta staf redaksi dan karyawan umum hingga bagian distribusi serta semua pêmêlótót (maksudnya pembaca) tulisan ini tidak ikut-ikutan menjadi penderita gangguan cemas dan depresi apa lagi menjadi na’udzubillah tsumma na’udzubillah….. pelanggan setia gangguan cemas dan depresi……aamiin 33 ´

…..yoo Wiss…..

dêprÉsi itu apa tho?

Begini nich ceritanya apa tho depresi itu, tapi selayang pandang aja yah……

Buat kamu, yang tipê orangnya sêrieus:

Suatu gangguan jiwa, utamanya ditandai dengan kehilangan minat dan kegembiraan dalam menikmati hidup.

Buat kamu, yang tipê orangnya tidak sêrieus :

Tidak pingin ngapa-ngapain, malês mau ini mau itu, ndak tertarik dengan yang bagus-bagus sekalipun itu cowok atau céwék cakêp, tidak bisa menikmati lucunya acara bAjAj BAjuri atau mr Bean juga Extravaganza, termasuk makanan yang disajikan oleh koki yang paling hebat-pun tidak bisa menikmati, mudah capék dan pokokmen/pokoké/pokoknya hidup bagi orang depresi tidak layak untuk dinikmati. Titik.

depresi derajatnya bisa bertingkat-tingkat mulai dari yang ringan, sedang hingga berat.

Tingkat Ringan biasanya dikuasai oleh gejala mudah lelah, capek dan lesu

Tingkat Sedang biasanya mulai muncul pikiran-pikiran untuk mati, pola mimpinya diwarnai tentang kematian dirinya

Tingkat berat biasanya sudah terbukti melakukan usaha bunuh diri….. ngêri ya


CONTOH KASUS :

Saat datang diklinik

Nani, seorang remaja putri, umur 17 tahun, anak pertama dari tiga bersaudara, datang ke tempat praktek dengan keluhan mudah pingsan. Selama satu bulan terakhir. Dari hasil wawancara didapatkan bahwa ia mengeluh gejala yang sangat lengkap dari ujung rambut sampai ujung kaki ada semua. Mulai dari pusing, cekot-cekot, nggliyer atau melayang mau pingsan sampai pingsan beneran. Leher kaku atau cengeng, nafas sesak tidak lega. Tangan dan kaki sering terasa kesemutan, pegel-pegel, capek dan terasa lemes. Dada berdebar-debar, perut sebah, terasa penuh kadang-kadang mules, sulit buang air besar. Menstruasi sering tidak teratur, dua bulan baru menstruasi kadang-kadang baru dua minggu “bersih” udah menstruasi lagi. Tidur tidak nyenyak, mudah bangun, semalam bangun sampai dua sampai empat kali. Sering mimpi-mimpi buruk, temanya dikejar-kejar, kadang dikejar ular, dikejar orang jahat hingga terbangun dengan nafas terengah-engah. Bangun tidur pagi badan terasa capek semua, pegel-pegel rasanya seperti habis “dipukuli orang sekampung”. Badan terasa lemas, mudah capek, tidak ada gairah dan malas mengerjakan segala sesuatu. Malas berdandan diri, hingga banyak teman-teman yang berkomentar wajah dan penampilannya akhir-akhir ini kok kusut. Bahkan ada yang berkomentar, kamu udah lupa caranya tersenyum ya..! Keluhan-keluhan tersebut udah berlangsung selama tiga sampai empat bulan terakhir. Bahkan seminggu terakhir sudah mulai muncul pikiran-pikiran tidak berguna, putus asa, dan lebih baik mati saja. Serta mimpi-mimpi tidurnya hampir selalu menggambarkan kematian tentang dirinya.

PERISTIWA-PERISTIWA YANG DIALAMI DELAPAN BULAN TERAKHIR

Selama ini segala sesuatu dalam keluarganya berjalan datar-datar saja. Setelah bapaknya, menjabat jabatan baru yang lebih tinggi wewenang dan otritasnya, termasuk tunjangannya yang meningkat, membuat terjadi perubahan-perubahan yang signifikan dalam kehidupan keluarganya. Sebelum jabatan baru, bapak pulang kerja jam 14.00 siang, habis itu sudah tidak kemana-mana lagi. Setelah jabatan baru pulang kerja menjadi jam 18.00 sore, habis itu mandi dan jam 20.00 pergi lagi pulang larut malam. Bahkan kalau malam minggu, sering pulang pagi hari. Ibunya juga tidak kalah heboh perubahan yang dialami, kesibukannya semakin banyak dan sering tidak berada dirumah. Prestasi ibu di tempat kerja yang menonjol, membuatnya dipromosikan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi. Pertemuan ibu dan bapak menjadi semakin jarang, bila bertemu datar-datar saja, termasuk dengan ketiga puterinya. Bahkan enam bulan sering bersitegang, termasuk ketika makan pagi, kesempatan satu-satunya seluruh anggota keluarga berkumpul. Peristiwa-peristiwa ini, membuat perasaan Nani menjadi tidak menentu, hingga mengganggu konsentrasi belajarnya. Prestasi belajar di sekolah merosot tajam, nilai-nilai rapor jelek. Nilai rapor yang jelek, bukannya menginsafkan kedua orang tuanya mengenai hubungan keduanya sebagai suami istri dan sebagai orang tua yang renggang, membuat prestasi anaknya merosot. Malah mereka berdua, marah besar, dan menuduh Nani dengan yang bukan-bukan. Mulai mengenal pacaran, tidak bisa mengatur waktu, tidak dewasa dan yang lebih menyakitkan hatinya adalah mengeluarkan kata-kata kasar yang membuat telinganya memerah.

Nani merasa sendirian, tidak ada lagi orang yang mau memperdulikan dirinya. Ia menarik diri dari pergaulan teman-temannya. Banyak murung, menyendiri, menangis sendiri, tidak tahu harus berbuat apa, merasa tidak berguna, merasa sebagai orang yang hina. Hingga tidak lagi memperhatikan penampilan dirinya. Hingga munculah serangkaian gejala yang membuat ia datang ke dokter.

Pada kasus ini, kalau mau jujur, sebenarnya kedua orang tua Nani juga mengalami gejala seperti yang dialami Nani, bagaimanapun perubahan yang dialami keduanya juga merupakan stressor atau segala sesuatu yang membikin stress. Termasuk juga dua orang adik Nani yang tidak diceritakan di sini. Itulah sebabnya sering dijumpai penyakit depresi melanda pada satu keluarga.

mengapa dÊprÉsi itU KoQ…..bisä2´-nya terja?

Katanya orang pintar (maksudnya para pakar gitchu lho..oh) salah satu kebutuhan utama manusia adalah kebutuhan mencintai dan dicintai, rasa aman dan terlindungi, keinginan untuk dihargai, dihormati dan lain-lain … pokoknya segala kebutuhan yang berkaitan dengan rasa, merasa dan dirasa … terutama mengenai hati yang paling dalam.

Seseorang yang kehilangan orang yang dicintai (suami/istri meninggal), kehilangan pekerjaan/jabatan dan sesukunya [baca sebangsanya ; karena suku lebih sempit dan dekat hubungannya], akan menyebabkan orang tersebut mengalami kekecewaan yang diikuti rasa sesal, bersalah dan seterusnya, berlarut-larut, berputar-putar dan berpanjang-panjang akhirnya jatuhlah pada keadaan yang dinamakan depresi.

Seseorang yang sehat jiwanya bisa lho jatuh ke lembah depresi yang dalam, apabila dia tidak mampu menanggulangi stressor (sesuatu yang bikin stress). Termasuk dokter juga bisa dihinggapi penyakit depresi. Ada lho dokter yang ngalamin depresi hingga ia ditemukan tewas karena bunuh diri! Kasihan ya!

Keadaan ini semakin diperkuat bila latar kepribadiannya cenderung yang depresif. Kepribadian yang cenderung depresif ini terjadi karena salah asuhan sewaktu masih kecil hingga masa tumbuh kembang terus berlanjut hingga menginjak dewasa, prinsipnya anak kurang kasih sayang selama masa pengasuhan tumbuh kembangnya.

Ciri kepribadian depresif :

q Pemurung, sukar untuk bisa senang, sukar untuk merasa bahagia

q Pesimis menghadapi masa depan

q Memandang diri rendah

q Mudah merasa bersalah/berdosa

q Mudah mengalah

q Enggan bicara

q Mudah merasa haru, sedih dan menangis

q Gerakan lamban, lemah, lesu, kurang energik

q Seringkali mengeluh sakit ini dan itu

q Mudah tegang, gelisah

q Serba cemas, khawatir, takut

q Mudah tersinggung

q Tidak ada kepercayaan diri

q Merasa tidak mampu, merasa tidak berguna

q Merasa selalu gagal dalam usaha, pekerjaan ataupun studi

q Suka menarik diri, pemalu dan pendiam [introvert]

q Lebih suka menyisihkan diri, tidak suka bergaul, pergaulan sosial terbatas

q Lebih suka menjaga jarak, menghindari keterlibatan dengan orang

q Suka mencela, mengkritik, konvensional

q Sulit mengambil keputusan

q Tidak agresif, sikap oposisinya dalam bentuk pasif-agresif

q Pengendalian diri terlampau kuat, menekan dorongan/impuls diri

q Menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan

q Lebih senang berdamai untuk menghindari konflik ataupun konfrontasi

Kalo orang dengan ciri kepribadian kayak di atas, maka kalo lagi ngalamin stress maka akan jauh lebih mudah untuk jadi depresi ketimbang orang dengan kepribadian rata-rata/kebanyakan orang.

Yang bikin munculnya gangguan cemas dan depresi

Disebut dengan Stressor adalah setiap permasalahan kehidupan yang menimpa pada diri seseorang. Reaksi tubuh terhadap stressor disebut dengan stress. Stress yang membuat fungsi organ tubuh menjadi terganggu disebut dengan distress. Reaksi kejiwaan terhadap stressor bisa bermacam-macam, diantaranya adalah depresi dan gangguan kecemasan. Dua gangguan ini seringkali berkaitan satu sama lainnya.

Stressor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang (anak, remaja, atau dewasa); sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau menanggulangi stresor yang timbul. Namun tidak semua orang mampu mengadakan adaptasi dan mampu menanggulanginya, sehingga timbullah keluhan-keluhan kejiwaan, antara lain depresi. Pada umumnya jenis stresor psikososial dapat digolongkan sebagai berikut:

Perkawinan

Berbagai permasalahan perkawinan merupakan sumber stres yang dialami seseorang; misalnya pertengkaran, perpisahan [separation], perceraian, kematian salah satu pasangan dan ketidaksetiaan atau perselingkuhan. Walopun kata orang selingkuh itu singkatan (selingan indah keluarga utuh..!?)

Problem orang tua

Permasalahan yang dihadapi orang tua, misalnya tidak punya anak, kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit, hubungan yang tidak baik dengan mertua, ipar dan besan merupakan sumber stres.

Hubungan interpersonal

Permasalahan yang dihadapi orang tua, misalnya tidak punya anak, kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit, hubungan yang tidak baik dengan mertua, ipar dan besan merupakan sumber stres. Permasalahan yang dihadapi orang tua, misalnya tidak punya anak, kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit, hubungan yang tidak baik dengan mertua, ipar dan besan merupakan sumber stres.

Pekerjaan

Masalah pekerjaan merupakan sumber stres kedua setelah masalah perkawinan. Banyak orang yang menderita depresi karena masalah pekerjaan ini, misalnya pekerjaan terlalu banyak, pekerjaan tidak cocok, mutasi, jabatan, kenaikan pangkat, pensiun dan kehilangan pekerjaan (PHK).

Lingkungan hidup

Kondisi lingkungan yang buruk besar pengaruhnya bagi kesehatan seseorang, misalnya masalah perumahan, pindah tempat tinggal, penggusuran, hidup dalam lingkungan rawan kriminalitas. Keadaan ini mengakibatkan rasa tercekam dan tidak aman serta mengganggu ketenangan dalam hidup.

Keuangan

Masalah keuangan [kondisi keuangan] yang tidak sehat, misalnya pendapatan jauh lebih rendah daripada pengeluaran, terlilit hutang, usaha bangkrut dan masalah harta warisan yang tidak tuntas penyelesaiannya.

Hukum

Tersangkut masalah hukum merupakan sumber ketidak-tenangan tersendiri. Misalnya masalah tuntutan terhadap seseorang, berurusan dengan pengadilan serta yang lebih parah harus mendekam di penjara. Karena berurusan dengan masalah hukum ini terutama bermasalah dengan kehormatan diri dan keluarga.

Perkembangan

Perkembangan ini terutama berkaitan dengan masalah tumbuh kembang baik fisik maupun mental seseorang, misalnya masa remaja, masa dewasa, masa menopause, dan usia lanjut. Setiap masa mempunyai permasalahannya tersendiri, dan bagi beberapa orang fase perubahan ini merupakan sumber stress. Contoh misalnya menopause bagi wanita yang belum siap psikologisnya merupakan sesuatu yang sangat menekan dan melelahkan.

Penyakit Fisik atau Cidera

Yang dapat menimbulkan stres di sini adalah penyakit menahun, kecelakaan, operasi/pembedahan, abortus, penyakit jantung dan kanker.

Faktor Keluarga

Faktor keluarga disini terutama bila suasana di rumah terutama sikap orang tua yang tidak baik. Sehingga anak menjadi tertekan dan menjadi sumber stres yang luar biasa. Kondisi keluarga berikut yang merupakan sumber masalah bagi anak:

* Hubungan kedua orang tua yang dingin atau memanas, atau penuh ketegangan dan acuh tak acuh.

* Kedua orang tua jarang di rumah dan tidak ada waktu untuk bersama dengan anak-anak.

* Komunikasi antara orang tua dan anak yang tidak baik

* Kedua orang tua berpisah atau bercerai

* Salah satu orang tua menderita gangguan jiwa/kepribadian

* Orang tua dalam pendidikan anak kurang sabar, pemarah, keras dan otoriter

Lain-lain

Stresor kehidupan lainnya juga dapat menimbulkan depresi antara lain bencana alam, kebakaran, perkosaan, kehamilan di luar nikah dan penggusuran rumah misalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar