Jumat, 20 Juli 2012

Pikiran dan keyakinan sebagai penyembuh Kanker Ganas

Tulisan ini saya kutip dari Buku Mind Power karya John Kehoe hal 170 - 173

"Pada usia empat puluh empat, aku menemukan diriku berada di sebuah rumah sakit dan diberitahu dokter bahwa aku mengidap tumor yang bersarang di urat saraf tulang belakang. Tumornya ganas dan aku divonis tidak akan sembuh. Aku diberitahu waktu hidupku tinggal dua bulan sampai satu tahun. Setelah beberapa minggu dalam keputusasaan mendalam, aku memutuskan untuk mencoba dan membantu diriku sendiri."
"Dua kali sehari selama lima belas menit aku mulai bermeditasi. Dalam layar bayangan di dalam pikiran, aku membayangkan tubuhku dan tumor itu. Setiap kali aku melihat tumornya, aku membayangkannya sedikit lebih kecil daripada yang kulihat terakhir kali. Toh itu semua hanya ada dalam pikiranku. Aku bisa membayangkan seperti apa yang kumau. Aku membayangkan diriku bisa melihat sel-sel kanker itu dilenyapkan oleh sistem kekebalan alami tubuhku, dan aku katakan pada diriku sel-sel itu dihanyutkan dari tubuhku setiap aku pergi ke kamar mandi. Ketika aku mendengar sebuah suara dari dalam diri yang menyatakan keadaanku tidak membaik, aku akan membungkamnya, menyatakan dengan tegas bahwa keadaanku membaik, malah mengalami kemajuan. Aku terus mengulang-ulang kepada diriku selagi berada dalam keadaan meditasi, 'Setiap hari dalam setiap cara, aku menjadi lebih baik dan semakin baik', sampai aku benar-benar meyakininya."
"Sebagai tambahan untuk sesi meditasi, aku memutuskan untuk memperkuat perasaanku dalam hal mengalami kemajuan dengan cara-cara lain. Setiap kali aku merasakan sensasi aneh atau rasa sakit dalam tubuhku, bukannya mengatakan pada diri sendiri bahwa tumornya sedang membesar, membawa lebih dekat pada kematianku, aku justru mengatakan pada diriku bahwa itu adalah 'energi' yang sedang berusaha menghilangkan tumor, menciutkannya, membuatnya lebih kecil dan semakin kecil, membuat keadaanku lebih baik dan semakin baik. Aku menantikan sensasi-sensasi yang sebelumnya sangat kutakuti itu."
"Sepanjang hari, setiap hari, aku mengingatkan diriku tentang segala cara yang membuatku kian membaik. Aku membayangkan makanan yang ku makan mengandung 'energi', membuatku lebih sehat dan semakin sehat. Aku terus-menerus mengingatkan diriku bahwa semua orang mencintaiku, dan kutegaskan pada diriku bahwa cinta ini adalah energi yang bisa digunakan, untuk semakin menguatkan proses penyembuhanku."
"Sedikit pun aku tidak tahu apakah teknik-teknik ini akan berhasil atau tidak, tapi kuputuskan bahwa kalau aku merasa lebih baik, ada kemungkinan tekniknya memang berhasil. Aku lebih banyak bergerak dan energiku bertambah setiap hari, persis yang kukatakan pada diriku."
"Dua bulan setelah aku mulai memprogram ulang pikiranku, aku diharuskan dokter melakukan pemeriksaan."
"Dokter sangat terkejut.Dia tidak menemukan bekas tumor sama sekali. Dia tidak bisa memercayainya. Inilah persis reaksi yang telah kubayangkan terjadi. Aku pun berkendara pulang ke rumah, sembari tertawa sepanjang perjalanan, tak sabar ingin segera memberitahukan kabar luar biasa ini kepada istriku"


Minggu, 15 Juli 2012

SAKIT KULIT KARENA “BENCI” PADA ISTRI


Seorang pria berusia 50 tahun datang di tempat praktik dengan keluhan perut sakit dan susah buang air besar. Sebelum diperiksa di bed, pasien saya persilakan duduk dulu di depan saya untuk dilakukan wawancara mengenai apa yang dia keluhkan. Sekilas pandang mengenai pasien ini adalah penampilan kulitnya yang kering, sekurus kering daging yang menutupi tulangnya. Warna kulit gelap, dan di beberapa bagian tubuhnya yang terlihat tampak menebal dan bersisik. Saya tidak menggali lebih lanjut permasalahan kulit yang beliau derita, karena merasa biasa-biasa saja. Jadi saya hanya fokus pada permasalahan perut dan memberikan pengobatan pada masalah perut tersebut.
Sekilas pandang, tidak ada permasalahan antara dia dan istrinya yang mengantarkannya pada waktu itu. Walaupun demikian saya punya firasat ada masalah dalam hubungan suami istri atau permasalahan lain yang demikian berat, tetapi saya belum mengetahuinya dengan pasti.
Selang beberapa waktu kemudian, istri dan anaknya menjadi pelanggan saya dengan mendatangi tempat praktik karena sakit ringan biasa seperti flu, atau diare dan semacamnya.
 Di sela-sela periksa itu saya mencoba memberanikan diri menanyai tentang beban psikologis yang dialami pasien kepada istrinya. “Ya ada dokter, ya begitulah” kata istri pasien memeriksakan dirinya karena suatu sakit yang ringan pada suatu kesempatan. Saya menangkap ada permasalahan keharmonisan suami istri, tetapi sang istri belum bisa asertif untuk mengutarakan permasalahannya. Dalam konteks konseling dan psikoterapi tahap saya adalah masih membangun rapor[1] dan mengeksplorasi permasalahan. Tetapi saya masih belum mendapatkan hasil seperti yang diharapkan, yaitu jelas sebab konfliknya, seberapa besar konflik tersebut mengganggu kehidupan mereka, dan apakah sumber konflik merupakan benturan nilai yang benar-benar mendasar antara suami istri tersebut.
Jawaban justru saya dapatkan dari anak-anaknya yang menginjak dewasa (usia SMA dan kulitah). Ternyata seperti yang saya duga, memang ada konflik yang mendasar antara suami istri tersebut. Menurut anak-anak mereka, walaupun bagi anak sebenarnya permasalahan sepele dalam hal urusan agama, tetapi bagi saya ini permasalahan serius karena ada perbedaan secara mendasar mengenai masalah keyakinan. Dari hasil eksplorasi permasalahan yang didapatkan dari anak-anak mereka, sama-sama beragama Islam, ada banyak aktivitas keagamaan istri di mata suami adalah aktivitas bid’ah atau jauh dari tuntunan agama. Sementara itu, makin hari, aktivitas istri yang dianggap bid’ah oleh suami itu makin menjadi. Tampak kesan bahwa suami memendam rasa tidak suka terhadap aktivitas istri, tetapi tidak terselesaikan dengan baik, sementara bagi istri aktivitas keagamaan yang dia lakukan tidak ada permasalahan mendasar.
Jadi permasalahan kulit menahun yang diderita oleh suami adalah akibat perbedaan mendasar antar aliran agama di kedua belah pihak. Bagi istri, itu bukan permasalahan yang mendasar, sementara bagi suami itu adalah permasalahan mendasar, sehingga mengganggu kesehatannya secara menyeluruh. Kesimpulannya tampak terlalu disegerakan ya? Bagaimana memahami dari problem psikoemosional menjadi penyakit fisik dalam hal ini kulit, insyaAllah akan dibahas di bagian “Mengapa emosi memengaruhi kesehatan?”.


[1] Rapor maksudnya adalah kepercayaan. Tujuan membangun kepercayaan adalah agar klien memercayai bahwa kita benar-benar orang yang dapat dipercaya untuk menyelesaikan permasalahannya. Hasil rapor yang baik ditandai salah satunya dengan pasien mengutarakan semua permasalahannya baik yang rahasia untuk diketahui orang lain maupun tidak.

Sindroma demam dua mingguan


Seorang remaja laki-laki, biasa disebut dengan santri SMP di suatu pondok pesantren yang saya pernah menjadi dokter di unit kesehatan pondok (UKP), datang di UKP dengan keluhan demam tinggi. Seperti biasa, kalau ada pasien demam saya memberi obat penurun panas dan multivitamin. Kemudian remaja tersebut pulang ke kamarnya. Ketika pasien santri sudah mulai sepi, mas Untung, seorang perawat yang bersama saya bekerja di jam shift tersebut, bercerita mengenai remaja laki-laki yang demam tersebut.
“Kok bisa ya mas Yusuf, santri yang tadi itu demam setiap dua minggu sekali” kata mas Untung mengawali pembicaraan. “Maksudnya?” tanya saya. O ya sebelumnya saya informasikan di pondok pesantren tempat saya pernah bekerja menerapkan bahwa santri dan santriwati libur setiap jum’at, dimana setiap dua pekan sekali (satu pekan untuk santri dan satu pekan untuk santriwati; jadi tidak ada kesempatan santri bertemu dengan santriwati karena jadwal keluarnya berbeda pekan) diizinkan keluar pondok sampai jam 17.00. Pada kesempatan keluar itu banyak dimanfaatkan oleh keluarga santri untuk mengajak putra putri kesayangannya.
“Maksudnya begini mas Yusuf, santri yang demam tadi itu, sakit demamnya setiap dua minggu, setiap malam kamis. Nah pada hari jum’at, setelah ketemu dengan bapak ibunya dan diajak keluar, demamnya langsung sembuh”. Jelas mas Untung.
“Iya ya mas, unik benar kasus santri itu ya” jawab saya.
Kalau pada anak saya, kejadian demam tinggi, keduanya terjadi pada saat masih dalam usia sekitar balita (bawah lima tahun). Pada kasus santri ini, terjadi pada usia SMP. Mengapa keinginan anak atau remaja yang begitu mendalam, dalam belum terwujud, membuat anak atau remaja tersebut mengalami demam tinggi? Penjelasan lebih lanjut nanti akan diuraikan di bab “mengapa emosi memengaruhi kesehatan?”. Selanjutnya akan saya paparkan lagi contoh-contoh kasus keterkaitan antara permasalahan pengelolaan emosi dengan kesehatan seseorang.

Kamis, 05 Juli 2012

Pilih Mana Tibun Nabawi atau Kedokteran Barat?


Mohon maaf ini tampaknya judul provokatif.
Maksud saya hanya ingin meluruskan beberapa persepsi yang keliru baik tibun nabawi sendiri maupun kedokteran barat di sisi yang lain. Sebagian persepsi yang keliru pada pihak tibun nabawi bahwa ini adalah metoda pengobatan yang kuno dan tidak relevan lagi dan “dipaksakan keilmiahannya” di satu sisi, pada sisi yang lain kedokteran barat diidentikkan dengan pengobatan kimiawi artifisial yang “mengganggu keseimbangan dalam tubuh” dan sebagainya.
Kalau boleh saya mendefinisikan tentang tibun nabawi adalah suatu sistem pengobatan terdiri dari unsur-unsur syari’at Islam yang bersifat tetap, dipadukan dengan unsur-unsur konseptual dan teknis pengobatan yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mutakhir. Jadi ada dua komponen utama yaitu komponen tetap yang tidak berubah hingga kiamat adalah komponen syari’at Islam dan komponen fleksibel yang bisa jadi mengadopsi konsep dan teknologi terkini yang ada pada masyarakat ilmiah kedokteran dan kesehatan modern atau barat. Sayangnya, akhir-akhir ini tibun nabawi sering dipersepsi dalam arti yang sempit meliputi bekam, obat-obatan herbal dari arab dan madu.
Kedokteran barat yang “berkuasa” saat ini sebenarnya mengadopsi konsep ilmu dan teknologi dari kemajuan perkembangan pengobatan terbaik yang diperoleh dari berbagai belahan daerah di seluruh penjuru dunia seiring banyaknya tanah jajahan yang mereka kuasai. Tidak sedikit obat-obatan yang dipakai dalam kedokteran barat yang berasal dari “sari-sari” tanaman Amerika latin, termasuk yang negatif rokok hingga narkoba. Sebagai contoh “sari” atau biasa dikenal ekstrak beladona yang digunakan untuk mengatasi gerakan peristaltik usus yang demikian cepat berakibat diare dan mules. Beladona adalah jenis tanaman obat yang biasa dipakai oleh suku Indian untuk mengatasi mencret. Demikian juga ganja, sebenarnya didapatkan dari kebiasaan suku Indian mengunyah-ngunyah tanaman itu untuk obat kecapean. Tetapi oleh barat, “sari” tanaman ini dimurnikan dijadikan obat-obatan penenang dan obat bius yang belakangan banyak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Demikian pula dengan rokok yang saat ini dikampanyekan dampak negatifnya juga berasal dari kebiasaan suku Indian. Bahkan konsep tentang sanitasi seperti saluran air bersih dan pengelolaan limbah termasuk WC peradaban barat tidak patut melupakan jasa kemajuan peradaban umat Islam waktu itu. Jadi kalau dibuat perumpamaan kedokteran barat seperti sebuah pohon, dimana akarnya menjalar dari berbagai belahan dunia mengambil sari-sari terbaik untuk membangun bagian-bagian pohon tersebut untuk terus tumbuh menjulang ke atas.
Meskipun demikian, ilmu dan teknologi kedokteran barat terus maju berkat riset yang berkelanjutan dari zaman mereka mulai tercerahkan setelah berinteraksi dengan Islam pasca perang salib hingga saat ini. Hanya sayangnya, ideologi yang mendasari ilmu dan teknologi kedokteran itu adalah ideologi sekuler dan penyerahan arah perkembangan sepenuhnya kepada pasar terutama pasar modal dan keuangan. Sehingga salah satu dampaknya adalah memunculkan “bualan janji” semua bisa diatasi dengan ilmu dan teknologi kedokteran modern sebagai bentuk dari pengaruh sekuler, dan kesenjangan yang curam antara pundi-pundi keuangan perusahaan farmasi dengan manfaat kesehatan yang dirasakan oleh masyarakat miskin dan dhuafa sebagai dampak dari tekanan pasar (kapitalisme) pada perusahaan-perusahan pemroduksi obat. Akibatnya banyak orang sakit yang putus asa dan stress karena apa yang “dijanjikan” yakni kesembuhan dan kesempurnaan tidak kunjung datang. Dampaknya banyak pasien yang minta “dibunuh” dengan penghalusan bahasa eutanasia kepada dokter karena sudah tidak kuat lagi menahan penderitaan sakit. Tidak sedikit pula dokter dengan mencari-cari alasan filosofis etis, akhirnya mendapatkan “pembenaran” melakukannya. Sementara di belahan dunia yang lain banyak orang yang tidak mendapatkan fasilitas pengobatan yang seharusnya mampu mengentaskannya dari penderitaan sakit, lantaran obat yang seharusnya dibutuhkan tidak dapat diraih disebabkan hak paten terlalu angkuh untuk direngkuh harganya, bahkan negaranya pun juga tidak mampu membelinya. Sehingga saat ini mulai muncul arus dari masyarakat mencari alternatif-alternatif pengobatan yang tidak menggunakan sistem kedokteran barat. Namun sayangnya, tidak sedikit pula masyarakat yang tertipu setelah menghabiskan berjuta-juta uang, ternyata juga tidak kunjung pulih dan sehat kembali. Belum lagi ancaman penyelewengan akidah dari pengobatan alternatif itu menjadi beban berat tersendiri bagi kaum muslimin.

Memahami sehat dan sakit antara Islam dengan Barat
Makna sehat secara komprehensif dari Barat baru disadari akhir-akhir ini kurang lebih pada dekade 90-an abad 20 kemarin. Kalau menilik definisi sehat yang dipublikasikan oleh WHO (World Health Organization), yakni suatu keadaan yang baik (well being) yang tidak saja bebas dari penyakit, tetapi juga meliputi aspek mental dan kenyamanan dalam menjalankan norma-norma sosial yang ada di masyarakat.
Pandangan mengenai penanganan sakit dalam Islam lebih luas dan lebih komprehensif bahkan menyentuh sampai pada tataran amalan hati, dengan pertanyaan apakah hati mereka telah sakit atau dalam hatinya ada penyakit (QS An-Nur: 48 – 50; QS Al-Ahzab: 32). Sementara itu sakit fisik menjadi bahasan hingga pada ibadah-ibadah tertentu ada dispensasi pengerjaannya bila sakit. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa walaupun kedokteran barat telah membuat batasan sehat dalam cakupan lebih luas, namun tetap saja belum menyentuh sisi amalan hati apalagi yang berkenaan dengan ketauhidan.
Bagaimana mengambil sikap?
Harus diakui bahwa kedokteran barat mempunyai keunggulan dalam penanganan infeksi seperti telah ditemukannya antibiotik, antivirus, antiparasit dan antimikroba, demikian juga dengan traumatologi dengan teknik-teknik pembedahan yang tidak sedikit perannya dalam menyelamatkan nyawa. Namun di sisi lain, penyakit-penyakit degeneratif dan kronis, dimana kedokteran barat “kewalahan” membuat peluang masih terbuka lebar bagi sistem-sistem pengobatan lainnya untuk memberikan kontribusinya. Untuk hal ini, WHO memberi ruang dalam sistem kedokteran modern dengan istilah kedokteran komplementer. Hanya saja yang dominan saat ini masih akupunctur dan pengobatan lainnya dari Cina. Tibun nabawi juga mengambil sisi positif kemajuan kedokteran barat seperti penggunaan jarum-jarum dari baja stainless yang telah tersterilisasi dengan sempurna, sehingga pasca penusukan tidak menambah infeksi pada kulit. Demikian juga, ini sekaligus tantangan bagi kita untuk “mengobyektivikasi” pengobatan sistem tibun nabawi agar bisa diterima secara luas di kalangan masyarakat ilmiah kedokteran. Beberapa tanaman tradisional Indonesia telah mendapatkan tempat yang terhormat di kalangan dokter di Indonesia bahkan sudah diresepkan secara luas, yaitu ekstrak daun meniran yang dibuat dalam bentuk kapsul dan sirup untuk meningkatkan daya tahan tubuh saat diserang infeksi. Memang butuh perjuangan yang panjang untuk hal tersebut. Setidaknya harus melewati 4 fase pengujian, mulai dari pengujian pada binatang, pada sukarelawan untuk menilai toksisitasnya, pada penderita dalam skala terbatas dan dibawah pengawasan ahli secara ketat, dan akhirnya dikonsumsi pada masyarakat secara luas.
Wallahua’lam

Masih Efektifkah Imunisasi itu?


Dalam beberapa tahun terakhir baik di dunia nyata, terlebih lagi di dunia maya diskusi mengenai efektifitas imunisasi atau vaksinasi menjadi demikian hangat bahkan ada kecenderungan menjadi panas dan tak terarah. Memang terasa sulit untuk mengomunikasikan bagaiamana sih hakikat sebenarnya dari imunisasi, apa tujuannya, bagaimana mekanisme kerjanya dan yang paling penting bagaimana menilai efektifitasnya dari bahasa medis ke pemahaman yang bisa diterima bagi khalayak. Membaca beberapa buku dan tulisan mengenai skeptisme terhadap imunisasi atau vaksinasi ada beberapa hal yang benar dan ada beberapa hal pula yang salah dipahami atau lebih tepatnya dipersepsi. Hal menonjol yang dan seringkali dibesar-besarkan adalah mengenai efek samping. Saya mempunyai pengalaman menarik mengenai efek samping ini, sehingga membuat seorang pasien tidak mau lagi memberikan obat kepada anaknya setelah dia membaca brosur yang ada di dalam kemasan yang diberikan kepada pasien. Walaupun belakangan akhirnya dia menjadi pasien yang “setia”. Ternyata pengalaman ini pula sama dengan yang dirasakan ketika saya mengikuti sebuah seminar mengenai terapi injeksi lokal pada keluhan-keluhan nyeri sendi, jaringan lunak dan otot. Pembicara tersebut adalah seorang dokter senior yang memberikan pelatihan mengenai terapi injeksi lokal dengan kortikosteroid yang telah beliau lakukan selama lebih dari tiga puluh tahun. Beliau mengatakan “Kalau Anda membaca efek samping suatu obat yang ada di brosur obat yang dikeluarkan pabrik, Anda akan menjumpai sekitar paling banyak sepuluh efek samping. Tetapi kalau Anda mengikuti kuliah farmakologi, suatu obat akan memiliki efek samping sampai bisa mencapai dua puluh macam efek samping. Lebih lanjut bila Anda membaca buku teks farmakologi, Anda akan menjumpai lebih dari lima puluh macam efek samping suatu obat”. Kemudian beliau melemparkan pertanyaan, “Sebagai dokter, apakah Anda akan menggigil ketakutan untuk memberikan resep atau tindakan kepada pasien Anda, setelah tahu efek samping suatu obat itu bisa lebih dari lima puluh?” “Tentu tidak kan? Kalau kita mengikuti rasa was-was dan takut dengan besarnya jumlah efek samping itu, tentu Anda akan memutuskan tidak usah praktik dokter saja, apalagi sekarang sedang seru-serunya musim tuntut menuntut antara pasien kepada dokter atau sebaliknya” jelas beliau. Selanjutnya beliau menenangkan “Yang penting kita sudah yakin akan efektivitas dan keamanan obat atau tindakan yang kita pilihkan untuk pasien, dan kita bisa mengelola efek-efek samping itu, memberikan pendidikan kepada pasien mengenai peluang munculnya efek samping itu, dan apa yang harus dilakukan baik bagi pasien dan keluarganya, demikian juga dengan tindakan-tindakan medis apa saja yang harus kita kuasai untuk dipersiapkan dalam mengatasi efek samping itu. Toh, sebenarnya peluang munculnya efek samping itu, terjadi pada satu diantara sekian ribu hingga sekian ratusan ribu kasus serupa yang ditangani.”
Dapat disimpulkan disini bahwa efek samping itu pasti ada dan tidak dapat dihindari, bahkan untuk terapi herbal atau pengobatan yang menggunakan metoda bekam pun tidak luput dari efek samping. Untuk yang terakhir beberapa waktu yang lalu saya mempunyai pasien mengalami radang pembuluh darah vena setelah menjalani pengobatan bekam, efek samping yang sama juga bisa dijumpai pada imunisasi atau vaksinasi yang injeksi. Atas izin Allah SWT semua bisa diatasi dengan obat-obatan topikal anti-peradangan pembuluh darah yang dioleskan di kulit. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para terapis bekam, bahwa bekam sendiri ada kontra indikasinya, bahkan kontraindikasi absolut yaitu pada mereka yang mengalami gangguan pembekuan darah karena keturunan, seperti hemofilia.
Selanjutnya hal-hal benar dalam pendapat mereka yang skeptis terhadap imunisasi dan vaksinasi meliputi; pertama pada aspek ideologi kapitalisme yang “menguasai” motivasi pengembangan dan pemasaran vaksin. Sebenarnya ini bukanlah dominasi pada vaksin saja, obat-obatan pada umumnya juga demikian. Siapa saja yang menemukan sebuah kasiat zat dan dibutuhkan oleh banyak pasien secara hukum dilindungi untuk diperbolehkan melakukan “eksploitasi” demi keuntungan keuangan dalam kurun waktu sepuluh tahun yang diberi label hak kekayaan intelektual untuk memonopoli produksi dan distribusinya. Demikian juga, tekanan pasar modal, tempat para pemilik modal “mengendalikan” perusahaan farmasi, menekan perusahaan itu agar memeras semua sumber daya yang dimiliki (bilamana perlu pasien) untuk mendapatkan hak kekayaan intelektual untuk memonopoli produksi dan distribusinya dalam rangka mendapatkan penghasilan uang yang berlimpah. Maka benarlah sebuah hadits yang menyatakan sebaik-baik tempat adalah masjid, seburuk-buruk tempat adalah pasar. Nah, pada kasus kapitalisme ini, ideologi pasar menguasai seluruh aspek motivasi pengembangan dan pemasaran obat-obatan termasuk vaksin di dalamnya. Hal yang sama, ada peluang pengembangan obat herbal dan metoda pengobatan nabi didominasi oleh ideologi pasar. Hal ini sudah terlihat dari produk-produk tibun nabawi yang dipalsukan.
Hal kedua yang benar adanya adalah pada aspek fiqh syar’iyah dalam proses produksi dan pengembangan vaksin. Untuk aspek ini perlu kolaborasi yang mesra antara pakar hukum syariah dengan pakar kedokteran dan biologi molekuler, di satu sisi untuk memberikan judgement secara komprehensif dalam memberikan fatwa yang dibatasi waktu sebelum para ilmuwan muslim yang faqih dalam agama mampu menemukan obat-obatan yang memenuhi kriteria efektifitas medis dan syar’i secara bersamaan. Sisi lain pada aspek kedua, yang sudah disinggung, yaitu jiddiyah kompetensi dan keuangan para ilmuwan muslim yang faqih dalam agama untuk mengembangkan obat-obatan secara luas yang efektif dalam proses penyembuhan penyakit, aman, memenuhi secara syar’i dilakukan dengan kaidah niyat yang lurus, keyakinan akan hasil yang baik, dan mempertimbangkan segala aspek manfaat dan madharat secara luas dalam masyarakat.
Terakhir yang tidak kalah penting, karena menjawab judul utama dalam tulisan ini adalah apakah imunisasi itu efektif? Sebelum menjawab, saya meminta kepada pembaca membuka Al-qur’an Surah Annisa ayat 28, bahwa Allah SWT menjadikan kita sebagai makhluk yang lemah. Dari ayat kauliyah, kita adalah makhluk yang lemah, demikian juga ayat-ayat kauniyah juga akan mendapatkan kenyataan yang serupa.
Sebelum menikah saya pernah menderita varikokel, yakni semacam varises yang letaknya tepat di atas testis. Bila penyakit ini tidak di atasi akan mengganggu kesuburan pria dalam mendapatkan keturunan. Saya memeriksakan apa yang saya derita kepada dokter bedah urologi. Karena tahu saya pada waktu itu adalah calon dokter, beliau mengungkapkan akan melakukan tindakan operasi Palomo, sebagai tindakan terbaik yang ada pada saat itu. Saya bilang kepada dokter urolog tadi agar diberikan waktu untuk merenungkan berbagai kemungkinan sebelum saya menyetujui tindakan tersebut. Saya terkejut ketika membuka kepustakaan dan jurnal yang mendapatkan bahwa keberhasilan operasi Palomo untuk mengatasi varikokel adalah enam puluh tujuh persen atau hanya dua per tiga. Jadi dapat dikatakan dua dari tiga orang penderita varikokel yang dioperasi dengan metoda Palomo yang berhasil. Akhirnya dengan tekad dan tawakkal kepada Allah SWT saya memutuskan setuju untuk operasi Palomo. Alhamdulillah saya termasuk dua pertiga penderita yang berhasil, saat ini bisa menghamili istri dan membuahkan dua keturunan.
Untuk vaksinasi atau imunisasi? Saya termasuk orang yang berkeyakinan ada kebaikan dari imunisasi dan vaksinasi dalam mencegah terjadinya penyakit-penyakit yang mematikan seperti campak atau melumpuhkan seperti polio (otot-otot kaki lumpuh) atau yang melemahkan hingga mematikan seperti TBC dan hepatitis yang sudah masuk dalam daftar imunisasi dasar di negara kita. Untuk imunisasi dasar ini, perusahaan BioFarma BUMN milik pemerintah RI telah dipercaya sebagai produsen dunia untuk menyediakan vaksin-vaksin untuk keperluan imunisasi dasar ini. Kebaikan dalam pencegahan ini bisa diibaratkan seperti program pemakaian helm bagi pengendara sepeda motor yang sebenarnya pencanang program itu adalah dokter ahli bedah saraf yang melihat penyebab kematian karena kecelakaan lalu lintas bagi pengendara sepeda motor adalah trauma kepala. Memang kalau dilihat kasus per kasus yang ada di sekitar kita tidak kentara terlihat, tetapi secara komunitas dalam skala besar, pengaruh itu ada yaitu penurunan angka kematian akibat trauma kepala pada pengendara sepeda motor secara signifikan setelah pemakaian helm digalakkan. Dalam kasus imunisasi pun juga mendapatkan angka yang mirip. Sebagai contoh pada kasus cacar air, mereka yang terkena “kecelakaan” berinteraksi dengan virus cacar air, sembilan puluh persen mereka yang tidak memakai “helm” vaksinasi mengalami derajat sakit yang hebat dibandingkan pada kelompok yang memakai “helm” vaksinasi. Demikian juga pada kasus imunisasi BCG untuk mencegah seorang anak balita dari “kecelakaan” terkena hamburan kuman tuberkulosis lewat nafas dan batuk penderita, karena sudah memilki daya tahan terhadapnya. Karena dari penelitian skala luas (epidemiologi) didapatkan dua pertiga orang di dunia ini pernah mengalami “kecelakaan” kena hamburan kuman tuberkulosis dari orang-orang sekitarnya yang sementara waktu belum terlihat secara klinis penyakitnya.
Mengenai kegagalan imunisasi, efek samping, tentu saja ada sebagaimana yang telah saya ceritakan pada kasus operasi Palomo. Butuh jiddiyah ilmuwan muslim untuk mengembangkan imunisasi yang presisinya makin tajam, makin minim efek samping, dan yang lebih penting secara syar’i dapat dipertanggungjawabkan. Wallahua’lam. 

Selasa, 03 Juli 2012

Semua bermula dari perut


Al-Tirmidzi meriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib yang mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Perbuatan manusia yang paling jelek dalam memenuhi bejana adalah memenuhi perut. Karena manusia cukup memakan beberapa suap untuk menguatkan tulangnya. Jika tidak memberatkan, sebaiknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara (napas). Al-Tirmidzi berkomentar, “hadits ini berkualitas hasan sahih,”
Ibnu Majah dalam kitabnya juga meriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib yang mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Perbuatan manusia yang paling jelek dalam memenuhi bejana adalah memenuhi perut. Manusia cukup memakan beberapa suap untuk menguatkan tulangnya. Jika ia mampu mengendalikan diri, sebaiknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara (napas).”

Dari perut bermula munculnya penyakit
Dalam sebuah seminar tentang kedokteran ada sebuah pernyataan menarik dari pembicara yang merupakan dokter spesialis jantung dan sudah menyandang gelar doktor dan profesor. Pernyataan yang sekaligus pertanyaan dari sang Profesor itu adalah “bagaiaman Anda tahu kalau Anda mengalami obesitas dalam waktu kurang dari satu menit?” Sang Profesor diam sejenak, memberi kesempatan kepada audiens untuk berpikir. “Gimana? Sudah dapat jawabannya?” Kemudian beliau melanjutkan ucapannya, “caranya mudah... cukup Anda berdiri tegak, kemudian lirik ke bawah, kemudian Anda perhatikan apakah kaki Anda masih bisa terlihat jelas?”  “Kalau Anda masih bisa melihat jelas kaki Anda berarti Anda bukan seorang yang mengalami obesitas, tetapi bila tidak itu tandanya Anda mengalami obesitas.” Hening sejenak... kemudian serentak audiens tertawa lepas “ha ha ha ha”. Ternyata setelah saya bayangkan sendiri, bila perut kita gendut, maka saat melirik ke bawah, jelas kaki kita tidak akan terlihat karena terhalang pandangannya oleh perut kita yang membuncit.
Seminar tersebut sedang membicarakan perkembangan terkini penanganan penyakit jantung koroner, dan obesitas merupakan faktor risiko terkuat dan termasif saat ini, karena di berbagai belahan dunia saat ini menghadapi permasalahan yang sama yaitu “wabah” kegemukan.
Bila saya track back pengalaman hidup saya, saat masih kanak-kanak hingga remaja, saya masih ingat betul, bagaimana ibu saya mengelola makanan buat kami sekeluarga. Buat keluarga saya waktu itu, satu butir telor, dicampur dengan tepung, air dan sayuran dan bumbu-bumbu yang lain, ternyata cukup untuk lima orang anaknya. Keadaan ini berbeda dengan pengalaman yang dialami anak-anak saya saat ini, sekali porsi makan satu butir telor sendiri tidak dibagi, sehari tiga kali. Ketika pertemuan dengan sesama teman sejawat, atau saat pertemuan RT, atau pertemuan-pertemuan lainnya yang merupakan kesempatan sharing berbagai hal dan melakukan saling cocok-cocokkan, ternyata mempunyai pengalaman yang serupa. Pemenuhan kebutuhan telor atau protein dan lemak bagi keluarga kita saat ini tidak sekedar memenuhi kebutuhan dasar, melainkan berlimpah-limpah.
Dampaknya secara umum dalam masyarakat yang lebih luas, dibandingkan dengan saat saya masih SD ataupun SMP hingga SMA, sangat jarang dijumpai orang gendut. Tetapi sekarang, orang gendut relatif sering dijumpai. Kalau ditelusuri lebih lanjut data-data dari berbagai artikel jumlah orang gendut atau seperti istilah yang disebut di atas yaitu obesitas, jumlahnya terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Jadi dapat dikatakan meluasnya “wabah” obesitas yang berdampak pada berbagaimacam penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, stroke dan komplikasi yang menyertainya semuanya berasal dari manajemen perut yang salah karena pola makan yang dikonsumsi tidak berimbang.
Sebagaimana yang ditulis oleh Malcolm Gladwell[1], fenomena lain yang dikaitkan dengan konsumsi lemak berlebih pada anak-anak menjelang remaja putri, adalah usia pertama menstruasi atau orang medis biasa menyebutnya dengan menarche, menjadi semakin lebih muda. Dalam buku “What the Dog Saw” tersebut Malcolm Gladwell menceritakan seorang pakar kedokteran yang bernama Strassman yang menyelidiki pola menstruasi wanita pada suku Dogon di Mali Afrika. Dalam usahanya untuk mendalami perilaku dan sikap suku itu terhadap menstruasi wanita, sengaja Strassman dan rekannya menginap dan berbaur dengan kehidupan sehari-hari suku itu dalam periode waktu tertentu hingga ia mendapatkan informasi yang utuh dan memadai. Strassman terselamatkan dari hidangan istimewa suku itu yaitu memakan tikus panggang, yang digambarkan bagaimana kumis tikus itu hangus. Dalam kepercayaan suku itu, orang asing tidak boleh makan makanan suku asli, sehingga dia terbebas dari “kewajiban” memakan tikus panggang.
Kembali pada penyelidikan sikap suku Dogon terhadap menstruasi pada wanita. Terlepas dari apa pun alasannya, dalam suku Dogon, setiap wanita yang sedang menstruasi dikumpulkan dalam satu rumah khusus. Jadi wanita yang sedang menstruasi dalam berbagai usia pada saat malam tidur di rumah khusus itu hingga pagi harinya. Pola ini terus berlangsung hingga menstruasi mereka berhenti. Keadaan ini membuat Strassman lebih mudah melakukan interview, mengumpulkan sampel air kencing serta mencatat segala sesuatu yang berkaitan dengan menstruasi pada suku Dogon tersebut. Yang menarik dari hasil pengamatan Strassman, di suku Dogon, rerata menstruasi pertama pada usia sebelas tahun, dan seumur hidupnya wanita suku Dogon mengalami menstruasi seratus kali. Keadaan ini berbeda dengan yang didapati di barat dengan pola makan lebih banyak lemak dalam makanannya, dimana menarche (menstruasi untuk pertama kali) pada usia lebih muda yaitu usia 9 tahunan, dan sepanjang hidupnya mengalami menstruasi sebanyak tiga ratus lima puluh sampai empat ratus kali. Lebih lanjut pola menstruasi seperti di barat meningkatkan risiko kanker rahim, kanker payudara dan kanker indung telur.
Jadi secara sederhananya dapat dikatakan pola menstruasi barat yang meningkatkan risiko kanker rahim, kanker indung telur dan kanker payudara berawal dari kesalahan manajemen perut karena memasukkan makanan yang tidak berimbang.
Mengejar untung dengan “meracuni” makanan
Selanjutnya dikatakan bahwa, perut merupakan organ yang berbentuk bejana yang terus saja menerima berbagai macam benda atau zat yang dimasukkan kepadanya. Akhir-akhir ini dalam industri makanan berbagai macam essence membuat makanan yang dihasilkannya menjadi menarik dan meningkatkan cita rasa dan selera makan. Namun sayangnya banyak perusahaan yang nakal memasukkan bahan-bahan makanan yang membahayakan ke dalam makanan yang dijual. Demi mengejar keuntungan besar sebagian perusahaan yang bergerak dalam usaha makanan menyediakan bahan makanan yang berkualitas rendah kedalam produk makanan mereka. Sebagian memasukkan pewarna tekstil yang murah tetapi menghasilkan warna yang menggugah selera ke dalam makanan. Sebagian lagi memasukkan pemutih atau pencerah makanan ke dalam makanan gorengan sehingga gorengan berkesan bersih dan cerah. Sebagian lagi dalam produksi memasukkan bahan-bahan yang tidak layak untuk dikonsumsi manusia, seperti udang busuk yang sudah ditumbuhi larva lalat, menambah dedak, atau formalin dan boraks. Bahkan rokok pun yang jelas merugikan kesehatan tidak luput dengan pemakaian essence dalam racikan sausnya. Ironisnya semua ini termasuk makanan yang disukai, dan masih kurangnya pendidikan kesehatan mengenai bahaya makanan yang berkualitas rendah seperti itu.
Berkaitan dengan essence ini, saya memunyai pengalaman menarik. Di suatu siang yang sangat terik, saat itu saya sedang menunggu perbaikan sepeda motor saya di bengkel resmi merek perusahaan penghasil sepeda motor itu. Kebetulan bengkel itu berada di dekat orang yang berjualan es dan dekat dengan sebuah sekolah menengah kejuruan. Karena suasana panas, saya tergoda untuk membeli es degan yang dijajakan oleh penjual es tersebut. Saya meneguk pada tegukan pertama, terasa ada yang aneh dari rasa es degan tersebut. Aroma vanila dari sirup memang sedap, tetapi saat merasuki sela-sela serabut lidah, terasa sensasi pahit dan aneh. Tapi saat itu tetap saya teruskan minum hingga tetes terakhir. Kemudian pulang menjalani kehidupan seperti biasa. Malam harinya baru terasa, tenggorokan sakit buat menelan, badan demam dan pegel-pegel. Pendek cerita saya menderita radang tenggorokan dengan sebab essence rasa manis dari es degan yang saya konsumsi di siang harinya.
Pada makanan sehat pun juga tidak luput dari pengelolaan makanan yang berkualitas rendah. Secara alami sayuran yang dibudidayakan manusia tidak luput dari hama serangga. Untuk itu diperlukan obat-obatan dalam bentuk semprotan untuk membasmi serangga. Dengan alasan lebih murah sebagian petani atau produsen produk-produk pertanian disinyalir masih menggunakan DDT sebagai pestisida / pembunuh serangga. Yang menjadi keprihatinan kita adalah bahwa waktu paruh DDT ini lebih dari lima tahun bahkan masih bisa bertahan dalam tubuh manusia hingga puluhan tahun. Karena karakteristiknya yang seperti itu, maka seseorang yang mengonsumsi sayuran dan masih mengandung sisa DDT dalam sayuran pada tubuhnya dalam jangka waktu yang panjang akan terakumulasi DDT yang mungkin dalam dosis membahayakan kesehatan tubuh. DDT yang lama masih belum terurai, terus dan terus ditambah DDT baru sebagai akibat konsumsi sayur atau buah-buahan yang mengandung sisa DDT.
 Di dunia peternakan pun sebagai sumber makanan hewani yang dikonsumsi manusia saat ini tidak luput dari hal-hal yang berbau instan dan serba cepat. Saya bisa berkata demikian, karena bapak saya juga beternak ayam broiler atau ayam potong. Kalau mau jujur ayam broiler atau ayam potong yang siap dikonsumsi ini dari sudut pandang usia, termasuk dalam kategori ayam “anak-anak”. Dikatakan “anak-anak” karena kalau dibiarkan terus hidup dalam arti tidak disembelih, dalam usia dua tahun tinggi ayam ini bisa mencapai satu meter. Karena “dikejar jam tayang” agar pada usia tiga bulan bisa dipanen, sedangkan ayam ini masih kanak-kanak yang belum sempurna sistem pertahanan tubuhnya, pada saat yang sama mereka dibesarkan tanpa asuhan induk, maka harus dijaga ketat kesehatan dan ketahanan tubuhnya. Untuk itu anak-anak ayam ini digelontor dengan multivitamin, diberi antibiotik bila sakit, bahkan keadaan ini masih terus dipertahankan saat siap “dipanen”. Dapat dibayangkan dalam tubuh anak ayam yang disembelih ini masih terdapat sisa antibiotik dan multivitamin “dosis tinggi”, kemudian dikonsumsi manusia. Walaupun saya belum menjumpai penelitian yang mengukur dosis antibiotik atau multivitamin dalam darah manusia yang mengonsumsi ayam “instan” potong ini, secara logika dapat dikatakan mengonsumsi ayam “instan” potong dalam taraf tertentu sama dengan mengonsumsi antibiotik dan multivitamin. Namun demikian, belum jelas data mengenai dampaknya pada kesehatan manusia secara luas.
Sikap tidak bertanggung jawab terhadap perutnya sendiri
Suatu malam tiga orang laki-laki yang sudah akrab menjalankan aktivitas rutin mereka untuk menghabiskan malam nan larut hingga pagi hari. Malam itu begitu berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Bila malam-malam sebelumnya aktivitas perjudian mereka, yang dipertaruhkan adalah sejumlah uang atau barang-barang berharga lainnya, terkadang bila perlu mengambil barang berharga yang esok harinya membuat beberapa tetangga mengeluh kehilangan barang karena dicuri. Tetapi malam itu, yang mereka pertaruhkan adalah meminum tape olie. Tape olie? Mungkin anda sama dengan saya terkejut mendengar tape olie diminum. Yah itulah kenyataannya. Pagi harinya seluruh desa dibuat heboh, terperanjat dan tidak percaya dengan yang terjadi. Dua orang dari mereka tewas, sementara satu orang bisa terselamatkan atas izin Allah SWT, walaupun harus dirawat di bagian perawatan intensif / Intensive Care Unit (ICU) selama beberapa hari. Satu orang yang lolos dari peristiwa maut itu, setahun berikutnya tidak dapat lolos dari maut, ketika sebuah truk besar blong remnya sehingga terhempas ke kanan dan kiri melibas tiang traffic light termasuk satu orang yang sebelumnya lolos dari maut minum tape olie.
Barusan, kita lihat contoh ekstrim orang yang tidak bertanggung jawab terhadap perutnya sendiri. Dalam taraf yang lebih ringan, masing-masing kita minimal memulai dengan penuh kesadaran ketika akan mengonsumsi sesuatu makanan atau minuman dan dampaknya bagi kesehatan dirinya baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Bagaimanapun juga tubuh kita memunyai hak sekaligus kewajiban kita untuk memenuhinya, karena ia akan dipertanggungjawabkan kelak di hari pembalasan.


[1] Malcolm Gladwell; 2009; What the Dog Saw and other adventure; edisi Indonesia, 2010 What the Dog Saw dan Petualangan-petualangan Lainnya, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Saya Pernah Mengalami Gangguan Obsesif kompulsif


Pagi siang itu suasana perkuliahan di fakultas kedokteran berlangsung seperti biasa, tetapi tidak bagi saya. Saya justru merasa gelisah, ada perasaan was-was yang menghinggapi pikiran saya, khawatir berbuat salah dari apa yang saya lakukan. Duduk di deretan bangku depan, membuat saya merasa was-was karena khawatir salah melakukan sesuatu yang nanti akan jadi bahan tertawaan teman-teman. Saya merasa bahwa seluruh teman-teman yang duduk di belakang saya, selain memperhatikan kuliah, juga melirik dan memperhatikan saya...terus dan terus seperti itu. Detik demi detik berjalan terasa lambat, hingga bulir-bulir keringat dingin keluar dari kulit saya. Dan di akhir kuliah baju saya basah. Beberapa teman tampak mengkhawatirkan kondisi saya dengan menanyai “Suf apakah kamu sakit? Kamu baik-baik saja kan?” Saya tidak bisa menjawab apa apa mengenai pertanyaan dari teman teman saya.
Malam hari setelah menyelesaikan aktivitas belajar, di kamar kos, bersiap tidur, dan akhirnya bisa terlelap tidur. Tiba-tiba saya terbangun, berdebar-debar, khawatir dan ragu-ragu apakah pintu kamar sudah terkunci atau belum. Saya tidak langsung bergerak, tetapi dorongan khawatir dan ragu demikian kuat untuk mendorong saya untuk bangun untuk mengecek pintu. Padahal saya ingat betul kalau sebelum tidur sudah mengunci pintu. Kalau saya tidak bangun dan melakukan pengecekan kunci pintu saya dilanda rasa cemas dan khawatir yang hebat. Akhirnya mau tidak mau bangkit mengecek pintu, dan sesuai yang saya duga pintu sudah benar-benar terkunci. Kemudian tidur kembali. Beberapa saat kemudian, terbangun dan tergegap, tiba-tiba rasa cemas melanda dalam pikiran kembali dan menghilangkan rasa kantuk. Kali ini yang menjadi bahan kecemasan adalah apakah kunci pintu sudah diputar dua kali atau cuman satu kali. Ingatan saya, sudah saya lakukan dua kali putaran kunci. Tetapi lagi-lagi pikiran pikiran cemas dan kekhawatiran berlebih benar-benar menguasai pikiran dan kembali lagi mendorong saya untuk bangun dan sekali lagi mengecek secara sadar untuk memastikan kunci pintu sudah diputar dua kali. Kembali saya berangkat tidur kembali dan bisa tidur untuk beberapa saat sebelum terbangun lagi dengan kekhawatiran daun nako kaca apakah sudah benar-benar tertutup dengan sempurna atau tidak.
Dua keadaan di atas adalah kisah nyata saya di tahun awal-awal kuliah di fakultas kedokteran, yang belakangan baru saya ketahui setelah mengikuti kuliah psikiatri (ilmu kesehatan jiwa) sebagai salah satu jenis dari penyakit jiwa yaitu gangguan kecemasan jenis obsesif kompulsif[1]. Mengapa saya bisa mengalami gangguan obsesif kompulsif seperti itu?
Secara umum munculnya gangguan jiwa, didahului sebab-sebab tertentu yang secara prinsip sebab itu adalah penyikapan yang salah terhadap peristiwa-peristiwa hidup yang menegangkan bagi seorang penderita. Perlu saya garis bawahi inti katanya adalah PENYIKAPAN YANG SALAH. Kalau melihat peristiwa yang menegangkan yang saya hadapi, bagi kebanyakan orang peristiwanya adalah peristiwa yang wajar dan mungkin dianggap remeh. Tetapi bagi saya peristiwa itu adalah sesuatu yang besar dan saya harus melakukan upaya besar secara psikologis untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian yang bagi saya itu adalah sesuatu yang sangat besar. Respons yang saya lakukan dalam menghadapi peristiwa menegangkan itu tidak cukup memadai agar saya melakukan penyesuaian besar dalam kehidupan saya. Respons yang tidak cukup memadai ini selanjutnya disebut dengan istilah DISTRESS.
Sejarah perlakuan saya ketika mengenyam pendidikan dasar, menengah, dan atas, tidak lepas dari peran ayah dan ibu, terutama peran Ayah. Ayah saya sangat care terhadap saya, bahkan terlalu berlebih, lantaran saya anak laki-laki pertama dan di tahun awal kehidupan, saya harus bertarung hidup dan mati melawan penyakit meningitis[2]. Walaupun dikenalkan mencuci baju, membersihkan rumah, ngepel, menyapu dan berangkat dan pulang sekolah sendiri, bapak saya selalu melakukan proteksi berlebih. Pendek kata, banyak hal yang seharusnya bisa saya lakukan secara mandiri “diambil alih” oleh bapak, bahkan yang paling heboh ketika ujian masuk perguruan tinggi negeri diantar “full team” satu keluarga. Problem selanjutnya bagi saya setelah harus hidup berpisah dengan orang tua selama hampir dua puluh tahun bersama, adalah proses “penyapihan” dari tanggung jawab yang selama ini diambil alih orang tua, menjadi tanggung jawab yang secara penuh menjadi beban saya. Tidak kalah hebat perubahan besar yang saya alami adalah beban belajar yang luar biasa berat. Banyak istilah yang harus dihafal sekaligus dipahami dan diaplikasikan untuk memahami konsep-konsep baru. Perubahan cara, lama dan intensitas belajar, harus saya lakukan secara besar-besaran pula yang sama sekali berbeda dengan cara belajar saat masih duduk di bangku SMA. Proses inilah yang mengakibatkan serentetan gejala gangguan kecemasan jenis obsesif kompulsif yang saya derita, akibat salah dalam mengelola emosi.


[1] Gangguan obsesif kompulsif adalah yaitu kecemasan yang mendorong penderita secara menetap untuk mengulangi pikiran atau perilaku tertentu
[2] Meningitis adalah penyakit radang akibat infeksi pada selaput pembungkus otak, berakibat penderita mengalami kejang-kejang dan mematikan atau bisa meninggalkan cacat saraf menetap seumur hidup