Tampilkan postingan dengan label penyakit perilaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit perilaku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juli 2012

SAKIT KULIT KARENA “BENCI” PADA ISTRI


Seorang pria berusia 50 tahun datang di tempat praktik dengan keluhan perut sakit dan susah buang air besar. Sebelum diperiksa di bed, pasien saya persilakan duduk dulu di depan saya untuk dilakukan wawancara mengenai apa yang dia keluhkan. Sekilas pandang mengenai pasien ini adalah penampilan kulitnya yang kering, sekurus kering daging yang menutupi tulangnya. Warna kulit gelap, dan di beberapa bagian tubuhnya yang terlihat tampak menebal dan bersisik. Saya tidak menggali lebih lanjut permasalahan kulit yang beliau derita, karena merasa biasa-biasa saja. Jadi saya hanya fokus pada permasalahan perut dan memberikan pengobatan pada masalah perut tersebut.
Sekilas pandang, tidak ada permasalahan antara dia dan istrinya yang mengantarkannya pada waktu itu. Walaupun demikian saya punya firasat ada masalah dalam hubungan suami istri atau permasalahan lain yang demikian berat, tetapi saya belum mengetahuinya dengan pasti.
Selang beberapa waktu kemudian, istri dan anaknya menjadi pelanggan saya dengan mendatangi tempat praktik karena sakit ringan biasa seperti flu, atau diare dan semacamnya.
 Di sela-sela periksa itu saya mencoba memberanikan diri menanyai tentang beban psikologis yang dialami pasien kepada istrinya. “Ya ada dokter, ya begitulah” kata istri pasien memeriksakan dirinya karena suatu sakit yang ringan pada suatu kesempatan. Saya menangkap ada permasalahan keharmonisan suami istri, tetapi sang istri belum bisa asertif untuk mengutarakan permasalahannya. Dalam konteks konseling dan psikoterapi tahap saya adalah masih membangun rapor[1] dan mengeksplorasi permasalahan. Tetapi saya masih belum mendapatkan hasil seperti yang diharapkan, yaitu jelas sebab konfliknya, seberapa besar konflik tersebut mengganggu kehidupan mereka, dan apakah sumber konflik merupakan benturan nilai yang benar-benar mendasar antara suami istri tersebut.
Jawaban justru saya dapatkan dari anak-anaknya yang menginjak dewasa (usia SMA dan kulitah). Ternyata seperti yang saya duga, memang ada konflik yang mendasar antara suami istri tersebut. Menurut anak-anak mereka, walaupun bagi anak sebenarnya permasalahan sepele dalam hal urusan agama, tetapi bagi saya ini permasalahan serius karena ada perbedaan secara mendasar mengenai masalah keyakinan. Dari hasil eksplorasi permasalahan yang didapatkan dari anak-anak mereka, sama-sama beragama Islam, ada banyak aktivitas keagamaan istri di mata suami adalah aktivitas bid’ah atau jauh dari tuntunan agama. Sementara itu, makin hari, aktivitas istri yang dianggap bid’ah oleh suami itu makin menjadi. Tampak kesan bahwa suami memendam rasa tidak suka terhadap aktivitas istri, tetapi tidak terselesaikan dengan baik, sementara bagi istri aktivitas keagamaan yang dia lakukan tidak ada permasalahan mendasar.
Jadi permasalahan kulit menahun yang diderita oleh suami adalah akibat perbedaan mendasar antar aliran agama di kedua belah pihak. Bagi istri, itu bukan permasalahan yang mendasar, sementara bagi suami itu adalah permasalahan mendasar, sehingga mengganggu kesehatannya secara menyeluruh. Kesimpulannya tampak terlalu disegerakan ya? Bagaimana memahami dari problem psikoemosional menjadi penyakit fisik dalam hal ini kulit, insyaAllah akan dibahas di bagian “Mengapa emosi memengaruhi kesehatan?”.


[1] Rapor maksudnya adalah kepercayaan. Tujuan membangun kepercayaan adalah agar klien memercayai bahwa kita benar-benar orang yang dapat dipercaya untuk menyelesaikan permasalahannya. Hasil rapor yang baik ditandai salah satunya dengan pasien mengutarakan semua permasalahannya baik yang rahasia untuk diketahui orang lain maupun tidak.

Minggu, 11 September 2011

Mengapa Orang bisa Kecanduan Rokok?

Inilah yang paling sering tidak disadari oleh mereka yang akhirnya jatuh dalam kelompok mereka yang digolongkan sebagai perokok berat. Pada mulanya adalah coba-coba. Kemudian karena pengaruh tekanan teman sebaya, akhirnya menjadi suatu kebiasaan saat berkumpul dan “kongkow-kongkow” kelompok. Selanjutnya saat mempunyai permasalahan dan saat sendiri, rokok, akhirnya menjadi pilihan sebagai teman setia yang mendampingi “kekalutan pikiran”. Akhirnya mulai timbul semacam “rasa kangen” ketika tidak ditemani rokok terutama bila saat sendirian. Pada saat inilah orang menyebut sebagai ketergantungan psikologis. Kebiasaan ini berlanjut terus dalam batas waktu tertentu membuat nikotin (zat psikotropik dalam rokok) mempunyai tempat istimewa di ruang molekuler reseptor otak bagian emosi. Bila ini sudah tercapai, si perokok akhirnya mengalami ketergantungan fisik. Dalam arti baik dalam keadaan ada “badai psikologis” atau pun tidak sama saja, si pelaku harus mendapatkan suplai nikotin yang harus dan terus-menerus mengisi reseptor nikotin di otak. Mungkin Anda heran, mengapa nikotin yang bukan bagian dari tubuh kita bisa menempati “tempat istimewa” dalam reseptor di otak? Sebenarnya di dalam tubuh ada molekul psikotropik alami yang membuat orang bisa mengatasi “kegalauan hati” dan “kegelisahan jiwa”. Namun karena setiap hari dan setiap saat terus-menerus dibombardir partikel-partikel nikotin yang berhamburan dalam jumlah besar, akhirnya nikotin ini bisa memenangkan persaingan untuk menempati “tempat istimewa” di reseptor otak tersebut. Akibatnya bila reseptor otak ini tidak terisi oleh nikotin, si pelaku rokok menjadi gelisah, tidak nyaman, galau dan resah, yang mendorongnya agar terus merokok untuk memberikan suplai nikotin dalam jumlah yang cukup. Bagi perokok berat, diibaratkan nikotin sudah demikian berurat akar di otak, akibatnya bila dipaksa berhenti merokok itu sama dengan “mencabut” nikotin yang sudah demikian berurat akar. Selanjutnya akan berakibat “sakau”, dengan demikian akan mencari pemenuhan nikotin dengan merokok lagi.

Ada sifat lain dari nikotin yaitu bersifat adiksi, artinya makin lama tubuh membutuhkan lebih banyak lagi dosis nikotin yang harus disuplai. Tetapi pada saat yang sama, zat-zat racun lain yang dikandung rokok sudah membuat kerusakan yang cukup parah, seperti membuat kerusakan di jaringan paru yang ujungnya membuat sel-sel paru berubah menjadi sel-sel ganas atau kanker paru. Di tempat lain, di pembuluh darah, oksidan dari pembakaran rokok yang masuk ke dalam pembuluh darah, merusak lapisan endotel (lapisan sel yang membuat pembuluh darah licin dan lentur). Bila lapisan endotel ini rusak, maka pembuluh darah menjadi kaku, permukaannya ditempeli lemak-lemak berbahaya dan akhirnya membuat pembuluh darah ini tersumbat. Bila lokasi penyumbatan ini ada di jantung, maka orang yang mengalami hal ini menderita sakit jantung yang mematikan. Bila lokasi penyumbatan berada di pembuluh darah otak, maka jaringan otak yang suplai darahnya terhenti akibat sumbatan menjadi mati. Akibatnya, orang yang mengalaminya menderita kelumpuhan karena “penggerak” otot mengalami kematian, dan orang di sekitarnya mengenalnya menderita stroke. Bila lokasinya di pembuluh darah mata (retina; tempat saraf-saraf penglihatan) berakibat matinya saraf-saraf penglihatan. Bila ini terjadi, orang yang mengalaminya akan mengalami kebutaan. Dan sebagainya, pendek kata kerusakan yang diakibatkan tergantung pada organ mana yang tersumbat pembuluh darahnya.

Selain sumbatan pembuluh darah, paparan oksidan (oksigen yang sangat reaktif, produk dari pembakaran rokok) yang terus-menerus pada sel-sel tubuh, mampu merubah sel-sel tubuh berubah sifatnya menjadi sel-sel yang ganas, atau biasa dikenal dengan kanker. Kanker yang diakibatkan rokok diantaranya adalah kanker paru dan kanker pankreas.

Dari uraian ini maka benar kalau ada orang yang mengatakan: “mas... mas... mau beli racun kok yang mahal..mahal. Sama-sama racunnya ya pilih yang murah aja!” Tapi ada ungkapan yang lebih benar: “Lha kalau sudah tahu racun, mengapa harus dikonsumsi... malah dibeli segala..pakai mahal lagi..!”

Sekilas tentang Perilaku Merokok

Secara umum, gas yang membahayakan kesehatan tetapi paling sering dimasukkan orang lewat mulut secara sengaja adalah asap rokok[1]. Memang aneh ya? Dan anehnya dua kali! Pertama gas masuk lewat mulut, selanjutnya memasuki saluran nafas, paru-paru dan akhirnya memasuki pembuluh darah dan beredar ke seluruh tubuh. Aneh yang kedua adalah hasil “bakar-bakaran” kok bisa-bisanya dimasukkan ke dalam saluran paru yang senantiasa membersihkan dirinya melalui mulut. Rokok sebelumnya tidak dikenal dalam budaya Indonesia, kemudian dikenalkan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui “pemaksaan” dan akhirnya diterima secara luas menjadi bagian dari budaya solidaritas masyarakat baik di pedesaan maupun di perkotaan. Di pedesaan menjadi sarana penghilang kecanggungan dan pengakraban ketika ada acara kondangan, yasinan dan berbagaimacam acara pertemuan lainnya tidak luput ada sajian rokok. Umumnya ditaruh dalam gelas minuman kemudian dibagikan kepada yang hadir. Di perkotaan juga demikian. Rokok dapat dijadikan sebagai simbol kedermawanan dengan saling berbagi rokok. Dengan diperkuat iklan dan industri, puncaknya rokok menjadi ciri identitas “suku-suku” tertentu dalam pergaulan masyarakat sesuai “bendera yang dikibarkan” oleh perusahaan pengiklan rokok. Mohon maaf bila terpaksa menyebutkan merek, dengan maksud untuk lebih dapat menjelaskan. Bagi kalangan muda yang berasal dari “suku” atau segmen yang mengunggulkan rasa solidaritas dalam “ciri suku” mereka yang dapat dikatakan dari suburban atau urban, dipilihlah rokok Sampurna Hijau atau saingannya gudang garam merah. Untuk mereka yang sukses, menunjukkan identitas diri mereka dengan memilih rokok dengan mereka Dji Sam Soe atau Gudang garam Eksklusif. Bagi mereka yang “unik”, terbukti dari pilihan mobilnya yang juga unik yakni VW atau skuter, memilih rokok Djarum Coklat, sebagai ciri identitas “suku” mereka. Sedangkan mereka yang merasa dari kelompok orang-orang “kreatif”, bila memilih rokok A Mild, sudah merasa bahwa mereka adalah sekelompok kecil orang yang “kreatif” dan “tampil beda” serta “bukan orang kebanyakan” yang mereka identikkan dengan iklannya yang “kreatif, tampil beda dan bukan sembarang orang”. Tetapi mereka, yang merasa sebagai kumpulan dari orang desa yang kreatif dan muda lebih memilih rokok sejati, sebagai cara menunjukkan jiwa kepahlawanan yang penuh kreativitas dan kedinamisan. Ada satu lagi yang lebih aneh, tetapi pencitraan ini sangat disukai, dan perokok yang menyembulkan bungkus rokok di sakunya, merasa bahwa dia adalah bagian dari keluarga koboi yang macho dan gagah berani. Dia adalah rokok Marlboro, yang perusahaan pemilik merek ini, beberapa waktu yang lalu membeli hampir seluruh kepemilikan perusahaan rokok empat generasi Sampurna.

“Suku-suku” ini sengaja diciptakan oleh tim kreatif manajemen merek rokok agar mereka mempunyai tempat yang unik dalam benak konsumennya. Padahal kalau mau jujur, barangkali bagi perokok yang obyektif, rasanya sama saja, ketika rokok itu tidak diberi label.

Yang lebih irasional adalah pada segmen remaja, apa pun merek rokok yang mereka pilih, perilaku merokok adalah simbol dari “pemberontakan” dan “anti status quo” serta “anti kemapanan”. Dengan merokok, mereka sudah merasa memiliki “kekuatan” dalam menentang para “pemilik otoritas” yaitu guru dan orang tua serta para sebaya mereka yang “sok alim”.

Inilah tantangan berat bagi si tukang kampanye sehat tanpa merokok. Si tukang kampanye ini menghadapi berbagaimacam “suku-suku” perokok yang berbeda-beda antara karakter “suku” yang satu dengan “suku” yang lain.

Tetapi bagi orang-orang sebaya di sekitar para perokok ini berarti dua macam :

1. Orang yang norak

Bila orang di sekitar mempunyai persepsi dan penilaian bahwa remaja perokok adalah norak atau “anti sosial”, biasanya mempunyai pengalaman positif terhadap proses-proses penanaman norma-norma yang dilakukan oleh pemilik otoritas “status quo” yang diperankan oleh guru dan orang tua si remaja. Saat ini ada kecenderungan di negara barat, sebagai akibat kampanye anti merokok, orang-orang di sekitar perokok mulai menjauhi melakukan interaksi lebih intens dengan mereka. Berarti para perokok ini dikategorikan sebagai orang yang norak. he he he mohon maaf kalau kebetulan Anda seorang perokok. Sekedar menyampaikan fakta, dalam buku “Connected” karya Nicholas A. Christakis dan James H Flower.[2] Buku “Connected” ini banyak sekali mengupas tentang karakteristik jaringan sosial dalam kehidupan manusia. Bagaimana bentuk jaringan sosial itu, siapa saja orang yang paling berpengaruh dalam jaringan itu, siapa saja yang berada di pusat jaringan dan siapa saja yang berada di pinggir jaringan. Bahkan perselingkuhan pun juga mempunyai jaringan, atau dalam buku Connected ini dikenal dengan nama “jaringan seksual”. Adanya jaringan seksual inilah yang menjadi sebab mengapa penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS ini sulit ditanggulangi di negara-negara Afrika. Dalam buku itu disebutkan bahwa mereka yang menjalani kehidupan ini dengan dilabeli perokok oleh orang di sekitarnya, mereka semakin terkucil jauh di pinggiran jaringan sosial dalam komunitasnya.

2. Orang yang “cool” dan keren

Bila orang sekitar mempunyai persepsi positif terhadap remaja perokok, atau biasa dinyatakan dengan “cool” atau keren, biasanya orang-orang ini mempunyai pengalaman yang negatif dengan proses penanaman norma-norma yang dilakukan oleh pemilik otoritas “status quo”. Penelitian menyebutkan bahwa, mereka yang dibesarkan dalam suasana broken home lebih berisiko menjadi perokok pada usia yang lebih dini (dibawah 14 tahun) dan menjalani kehidupan permisif (melakukan seks pra nikah), disamping risiko yang lain terutama berkaitan dengan penderitaan masalah psikologis dan gangguan mental hingga perilaku bunuh diri.

Macam-macam rokok meliputi

- Rokok sigaret

Merupakan campuran antara tembakau, cengkeh, berbagai macam rempah yang diramu dalam suatu komposisi yang merupakan rahasia perusahan pembuatnya dan dikenal dengan nama saus rokok. Saus rokok inilah, yang menurut para penggemar rokok membedakan cita rasa satu perusahaan rokok dengan lainnya. Aromanya pun lebih enak (tentunya saat sebelum dibakar, tetapi bila dibakar rasanya tetap asap) campuran tembakau, cengkeh, dan rempah-rempah lainnya. Ini adalah format rokok khas Indonesia yang tidak didapati di negara manapun di dunia. Setelah dibakar, konon kandungan racunnya lebih berbahaya ketimbang rokok yang hanya berisi tembakau. Sehingga sebagian negara maju melarang keras import rokok jenis ini.

Diantara karyawan perusahaan rokok, karyawan yang meracik saus inilah yang mungkin gajinya bisa bersaing dengan jajaran pimpinan perusahaan.

- Rokok tembakau

Secara fisik bentuknya sama dengan rokok kretek, lintingan kertas putih membungkus serbuk kering berwarna kecoklatan. Yang membedakan adalah kandungan serbuk kering tersebut. Bila rokok kretek, serbuk kering kecoklatannya adalah campuran daun tembakau, cengkeh, kayu manis dan rempah-rempah lainnya (tentu saja sudah dalam keadaan kering), pada rokok tembakau hanya berisi daun tembakau saja. Seringkali rokok tembakau ini dikenal dengan nama rokok putih.

- Cerutu

Kalau dua jenis rokok di atas pembungkusnya adalah kertas yang berwarna putih, lain halnya dengan cerutu, pembungkusnya adalah daun tembakau sendiri. Karena pembungkusnya daun tembakau yang kering, berarti kualitas daun tembakau yang digunakan haruslah di atas rata-rata. Karena bila kualitas tidak baik, bungkus yang digunakan akan rapuh, sehingga tidak bisa digunakan. Dengan karakteristik seperti inilah yang membuat cerutu lebih mahal. Di samping itu merokok dengan menggunakan cerutu, bagi si perokok akan menampilkan atau mencitrakan bahwa dirinya adalah orang yang berkelas, bukan orang sembarangan.

Inilah keanehan manusia lagi. Untuk menunjukkan bahwa dirinya orang berkelas, tidak saja lewat mobil, pakaian, sepatu ataupun rumah, tetapi juga jenis “racun” yang dipilih juga harus yang berkelas juga. Memang aspek emosi manusia itu tidak rasional dan tidak dapat dilogika.



[1] Untuk pembahasan lebih detil mengenai pembahasan bahaya merokok dan kandungan berbahaya asap rokok dapat dilihat dalam buku “Menjadi Dokter Pribadi di Rumah Sendiri” karya dr. Yusuf Alam Romadhon yang diterbitkan oleh Hasanah Media

[2] Nicholas A. Christakis and James H. Flower; Edisi Indonesia, Connected; Dahsyatnya Kekuatan Jejaring Sosial Mengubah Hidup Kita; Penerbit Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2010

Bila mulut menjadi pereda kecemasan

Beberapa kelainan jiwa tertentu seperti gangguan kecemasan, mulut menjadi pengalihan untuk meredakan kecemasan penderita tersebut. Walaupun pengalihan ini meredakan, tetapi tidak menyembuhkan akar permasalahan kecemasan yang melanda dirinya. Kalau Anda pernah belajar psikologi, dan mengenal pemikiran Sigmund Freud (baca: Sigmun Froit), yang mengelompokkan perkembangan psikologis manusia melalui fase-fase yang salah satunya adalah fase oral atau fase mulut. Fase oral atau fase mulut ini muncul pada saat kita masih bayi. Dalam perkembangan selanjutnya, ketika seseorang mengalami tekanan masalah akibat peristiwa hidup yang tidak mengenakkan dalam kehidupannya sehari-hari, maka psikologis kita menciptakan mekanisme pertahanan jiwa agar dia tidak merasa terserang dan aman. Salah satu jenis mekanisme pertahanan ketika menghadapi “ancaman” tekanan hidup itu adalah regresi. Sederhananya ketika kita masih kanak-kanak menjelang remaja atau mungkin sudah dewasa, pada saat kita mengalami permasalahan pelik, seperti menghadapi ujian dengan materi bejibun, maka seringkali kita mulai timbul pikiran-pikiran membayangkan enaknya dulu masih kanak-kanak hidup enak, senang tanpa permasalahan seperti yang dihadapi saat ini. Atau ketika melihat anak kecil, kita berandai-andai kalau kita seperti anak itu, betapa enaknya belum menghadapi dan memikul beban tanggung jawab yang luar biasa besar seperti yang kita hadapi saat ini. Situasi inilah yang dikenal dengan mekanisme pertahanan regresi. Bentuk lainnya adalah kembali kepada masa perkembangan yang disebut oleh Sigmund Freud dengan fase oral yang terjadi pada saat kita masih bayi. Wujud regresi ke fase oral bisa bermacam-macam. Pada anak-anak atau menjelang remaja, sering kita jumpai pada anak yang menggigit jari (bervariasi bentuknya mulai mengemut, menggigit kulit jari hingga kuku) atau menggigit pakaian yang dipakai ketika dimarahi atau ketika ia berhadapan dengan peristiwa yang menegangkan lainnya. Manifestasi regresi ke fase oral bisa juga dengan ngemil makanan atau merokok dan yang lebih parah minum minuman beralkohol. Jadi seseorang yang mengalami gangguan jiwa itu tidak harus kurus, bahkan sebaliknya bisa jadi sangat gemuk, karena mekanisme pertahanan jiwanya dengan regresi ke fase oral melalui ngemil makanan yang tiada henti. Ujung-ujungnya berat badan melonjak tak terkendali.

Bermasalah dengan pengendalian mulut berakibat :

1. Pecandu rokok

2. Pecandu minum

3. Pecandu makanan dan camilan

Kamis, 30 Juni 2011

Teman Anda Menentukan Bentuk Tubuh Anda!

Hasil kerja penelitian yang luar biasa dari Nicholas A. Christakis and James H. Flower, melakukan pengamatan sejak tahun 1971 sampai dengan tahun 2003 (selama 25 tahun) melibatkan 12.067 orang, mendapatkan kesimpulan lingkungan jejaring sosial seseorang mempengaruhi gemuk tidaknya seseorang[1]. Maksudnya adalah bila Anda sehari-hari dalam lingkungan orang-orang yang gemuk, maka peluang Anda untuk gemuk akan besar. Bukan karena tertular karena berinteraksi secara fisik, melainkan perilaku-perilaku makan makanan besar dan camilan yang mereka akrabi setiap hari juga perilaku latihan fisik yang rendah juga memperbesar peluang itu. Lebih detil hasil penelitian mereka berdua adalah peluang seseorang menjadi gemuk meningkat 57 % bila mempunyai satu teman yang gemuk, bila satu saudara kandung gemuk, maka peluang seseorang untuk gemuk adalah 40 %, sedangkan bila salah satu pasangan suami istri gemuk, peluang pasangannya untuk menjadi gemuk adalah sebesar 37 %. Tetapi efek ini tidak berpengaruh pada tetangga di lingkungan geografis yang dekat. Dapat disimpulkan di sini, bentuk tubuh “sahabat” Anda menentukan ukuran dan bentuk tubuh Anda.

Pada gambar 10 dengan jelas menunjukkan dua kelompok dari lingkungan jejaring sosial yang berbeda yang membuat anggotanya mempunyai peluang yang berbeda untuk menjadi gemuk. Lingkungan jejaring gemuk mendorong anggotanya tumbuh menjadi gemuk lebih besar. Sedangkan lingkungan jejaring langsing malah sebaliknya.

Kemungkinan lainnya adalah dengan mengacu pada penelitian Mummery et al (2007) di Australia[1], dimana mereka dalam komunitas yang cenderung “individualis” atau modal sosial[2] rendah mempunyai kecenderungan dalam membuat warganya jarang berolahraga atau dalam bahasa Inggris disebut dengan physical inactivity. Istilah terakhir inilah yang membuat seseorang berpeluang besar mengalami obesitas alias kegemukan alias gembrot. Penelitian lain menyebutkan bahwa lingkungan sekolah dimana dalam radius 1 mil (1,5 km) terdapat restoran fast food, ternyata secara signifikan membuat siswa-siswa di sekolah itu untuk mengalami gemuk, dibandingkan dengan sekolah yang tidak ada restoran fast food.[3]


[1] Mummery, W.K., Lauder, W., Schofield, G., Caperchione, C., (2008) Associations between physical inactivity and a measure of social capital in a sample of Quennsland adult; Journal of Science and Medicine in Sport; Jun; 11, 3; ProQuest Medical Library pg. 308

[2] Modal sosial adalah “lem” dalam masyarakat, masyarakat yang individualis misalnya di lingkungan perumahan berpagar tinggi, kurang sosialisasi antar tetangga dan jarang atau bahkan tidak ada organisasi sosialnya seperti PKK, posyandu, RT dsb, termasuk memiliki modal sosial yang rendah. Modal sosial telah dijelaskan lebih mendetil di buku “Menjadi Dokter Pribadi di Rumah Sendiri” dengan penerbit Khasanah Media tahun 2010

[3] Davis, B., Carpenter, C (2009) Proximity of Fast-Food Restaurants to Schools and Adolescent Obesity, Am J of Public Health, March Vol 99, No. 3


[1] Christakis, N.A., Fowler, J.H., (2007)The Spread of Obesity in a Large Social Network over 32 Years, New England Journal of Medicine, 357:370-9

Rabu, 16 Februari 2011

Nasib kesehatan wanita yang sendiri di Swedia

Gunela Ringbäck Weitoft dari Pusat Epidemiologi dan anggota Dewan Nasional Kesehatan dan Kesejahteraan Swedia, bersama tiga rekannya Bengt Haglundjern dan Mäns Rosén dari berbagai Institusi Pendidikan Dokter dan Kesehatan ternama di Swedia melakukan penelitian pada masyarakat berskala luas antara tahun 1991 sampai 1994[1].

Weitoft dan rekan membandingkan 26.619 ibu yang hidup sendiri dalam jangka waktu yang lama dengan 379.855 ibu yang tinggal bersama dengan pasangan mereka.

Weitoft dan rekan ini, membandingkan 26.619 ibu yang hidup sendiri dalam jangka waktu yang lama dengan 379.855 ibu yang tinggal bersama dengan pasangan mereka. Semua ibu-ibu ini mempunyai anak yang berusia 0 – 15 tahun. Di awal penelitian ini yakni pada tahun 1991, semua ibu pada data dasarnya relatif sehat (tidak pernah masuk rumah sakit kecuali untuk melahirkan dalam tiga tahun terakhir). Rentang usia ibu-ibu ini 29 – 54 tahun di awal penelitian tahun 1990. Kemudian ibu-ibu ini diikuti status kesehatan, catatan medisnya selama 4 tahun (1991 – 1994), untuk memantau mortalitas, kesakitan berat dan trauma dalam periode waktu tersebut. Rata-rata usia ibu sendiri 38,6 tahun sedangkan ibu dengan pasangan 39,0 tahun, yang berarti tidak ada perbedaan yang berarti dalam hal usia. Mengapa usia penting diperhatikan, karena perbedaan usia yang terlampau jauh apalagi satunya jauh lebih tua, tentu angka kesakitannya akan lebih banyak. Nah, dengan awal yang sama di awal pengamatan ini, akan lebih menjamin bahwa pengaruh kesehatan atau yang lainnya benar-benar merupakan dampak dari pengaruh kesendiriannya dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Di amati pula, ternyata ibu sendiri lebih banyak sebagai pekerja manual (pekerjaannya relatif kasar), lebih sedikit anak dan lebih cenderung tidak bekerja. Sebagian besar ibu sendiri tinggal di tiga kota terbesar di Swedia (Stockholm, Gothenburg dan Malmö) dan sebagian besar tinggal di rumah kontrak.

Kondisi ini berlawanan dengan ibu-ibu yang hidup bersama pasangan mereka, lebih dari 85% ibu-ibu dengan pasangan mereka tinggal di rumah mereka sendiri. Ibu-ibu sendiri dua kali lebih sering mengajukan klaim jaminan sosial karena tidak punya pekerjaan. (berbeda dengan di negara kita, orang yang dalam posisi tidak menguntungkan diberikan santunan oleh negara)

Yang mencengangkan adalah ketika para peneliti ini melihat data kesakitan dan mortalitas selama 4 tahun pengamatan didapatkan bahwa, resiko sekarat (dying) pada ibu sendiri 50% lebih tinggi ketimbang ibu dengan hidup bersama pasangan. Ibu-ibu yang sendirian mempunyai peluang menderita penyakit psikiatri (kejiwaan) dan percobaan bunuh lebih tinggi 2,5 kali dan peluang untuk menderita kanker paru lebih dari dua kali lipat lebih besar. Resiko yang sangat menonjol bagi ibu sendiri adalah penyalah gunaan obat atau alkohol (peningkatan resiko lebih dari empat kali lipat) dan korban kekerasan (peningkatan resiko enam kali lipat). Untuk korban kekerasan, setelah dikoreksi dengan situasi rumah nilai resiko turun dari semula 5,47 kali menjadi 2,39 kali. Hal ini secara statistik menunjukkan bahwa situasi rumah untuk ibu sendiri punya andil dalam menyebabkan ibu sendiri menjadi rentan sebagai korban kekerasan. Ibu sendiri lebih beresiko mengalami kecelakaan lalu lintas sekitar 1,5 kali lebih besar.

Wanita hidup sendiri entah karena bercerai atau bujang mempunyai resiko melemah kekuatan finansial, mati lebih cepat, sakit jiwa dan mencoba bunuh diri, menjadi penyalah guna obat dan alkohol, korban kekerasan dan mengalami kecelakaan lalu lintas



Tabel 1. Resiko wanita hidup sendiri dibandingkan wanita hidup bersama pasangan di Swedia

No

Jenis Resiko

Besar resiko

1.

Menurunnya jaminan finansial

2 x (klaim jaminan sosial)

2.

Sekarat (dying)

50% lebih tinggi

3.

Sakit jiwa dan percobaan bunuh diri

2,5 x

4.

Penyalahguna obat dan alkohol

4 x

5.

Korban kekerasan

6 x

6.

Kecelakaan lalu lintas

1,5 x



[1] Weitoft, G.R., Haglund, B., Hjern, A., Rosén, M. (2002), Mortality, severe morbidity and injury among long term lone mothers in Sweden; International Journal of Epidemiology; 31; 573 – 580