Kamis, 21 April 2011

Gembrot, Gemuk, Obesitas

Istilah gembrot atau kegemukan atau obesitas secara garis besarnya adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berat badannya melebihi kebanyakan orang. Secara kasat mata orang gemuk terlihat dari bentuk tubuhnya yang tidak proporsional, yaitu cenderung membulat mendekati bola. Karena bentuknya yang membulat bahkan dalam istilah yang kasar menggelambir, membuatnya secara kosmetik tidak “indah”. Berbagai upaya dilakukan seperti program diet ekstra ketat, olah raga ekstra keras, minum ramuan herbal, akupungtur, bedah plastik, minum obat-obatan pelangsing baik dari dokter hingga pengobatan alternatif yang tidak jelas jluntrungnya dan datang ke “orang pintar” yang seringkali tidak rasional.
Lalu bagaimana sih seharusnya menurunkan berat badan yang ideal, relatif permanen hasilnya, aman dan “nyaman” ketika berjuang mendapatkan bentuk tubuh yang ideal? Jawabannya relatif dan tidak ada yang pasti! Tetapi di dunia ini yang pasti adalah TIDAK ADA YANG INSTAN!Sayangnya inilah yang sering dieksploitasi untuk kepentingan komersial akhir-akhir ini.....
Penanganan obesitas.. yang penting bukan masalah kosmetiknya, tetapi dampak jangka panjangnya yang buruk bagi kualitas kehidupan seseorang... karena itu butuh pembahasan yang komprehensif mengenai masalah ini.. wallahua'lam

Rabu, 13 April 2011

Semua bermula dari perut

Al-Tirmidzi meriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib yang mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Perbuatan manusia yang paling jelek dalam memenuhi bejana adalah memenuhi perut. Karena manusia cukup memakan beberapa suap untuk menguatkan tulangnya. Jika tidak memberatkan, sebaiknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara (napas). Al-Tirmidzi berkomentar, “hadits ini berkualitas hasan sahih,”

Ibnu Majah dalam kitabnya juga meriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib yang mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Perbuatan manusia yang paling jelek dalam memenuhi bejana adalah memenuhi perut. Manusia cukup memakan beberapa suap untuk menguatkan tulangnya. Jika ia mampu mengendalikan diri, sebaiknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara (napas).”

Dari perut bermula munculnya penyakit

Dalam sebuah seminar tentang kedokteran ada sebuah pernyataan menarik dari pembicara yang merupakan dokter spesialis jantung dan sudah menyandang gelar doktor dan profesor. Pernyataan yang sekaligus pertanyaan dari sang Profesor itu adalah “bagaiaman Anda tahu kalau Anda mengalami obesitas dalam waktu kurang dari satu menit?” Sang Profesor diam sejenak, memberi kesempatan kepada audiens untuk berpikir. “Gimana? Sudah dapat jawabannya?” Kemudian beliau melanjutkan ucapannya, “caranya mudah... cukup Anda berdiri tegak, kemudian lirik ke bawah, kemudian Anda perhatikan apakah kaki Anda masih bisa terlihat jelas?” “Kalau Anda masih bisa melihat jelas kaki Anda berarti Anda bukan seorang yang mengalami obesitas, tetapi bila tidak itu tandanya Anda mengalami obesitas.” Hening sejenak... kemudian serentak audiens tertawa lepas “ha ha ha ha”. Ternyata setelah saya bayangkan sendiri, bila perut kita gendut, maka saat melirik ke bawah, jelas kaki kita tidak akan terlihat karena terhalang pandangannya oleh perut kita yang membuncit.

Seminar tersebut sedang membicarakan perkembangan terkini penanganan penyakit jantung koroner, dan obesitas merupakan faktor risiko terkuat dan termasif saat ini, karena di berbagai belahan dunia saat ini menghadapi permasalahan yang sama yaitu “wabah” kegemukan.

Bila saya track back pengalaman hidup saya, saat masih kanak-kanak hingga remaja, saya masih ingat betul, bagaimana ibu saya mengelola makanan buat kami sekeluarga. Buat keluarga saya waktu itu, satu butir telor, dicampur dengan tepung, air dan sayuran dan bumbu-bumbu yang lain, ternyata cukup untuk lima orang anaknya. Keadaan ini berbeda dengan pengalaman yang dialami anak-anak saya saat ini, sekali porsi makan satu butir telor sendiri tidak dibagi, sehari tiga kali. Ketika pertemuan dengan sesama teman sejawat, atau saat pertemuan RT, atau pertemuan-pertemuan lainnya yang merupakan kesempatan sharing berbagai hal dan melakukan saling cocok-cocokkan, ternyata mempunyai pengalaman yang serupa. Pemenuhan kebutuhan telor atau protein dan lemak bagi keluarga kita saat ini tidak sekedar memenuhi kebutuhan dasar, melainkan berlimpah-limpah.

Dampaknya secara umum dalam masyarakat yang lebih luas, dibandingkan dengan saat saya masih SD ataupun SMP hingga SMA, sangat jarang dijumpai orang gendut. Tetapi sekarang, orang gendut relatif sering dijumpai. Kalau ditelusuri lebih lanjut data-data dari berbagai artikel jumlah orang gendut atau seperti istilah yang disebut di atas yaitu obesitas, jumlahnya terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Jadi dapat dikatakan meluasnya “wabah” obesitas yang berdampak pada berbagaimacam penyakit degeneratif seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, stroke dan komplikasi yang menyertainya semuanya berasal dari manajemen perut yang salah karena pola makan yang dikonsumsi tidak berimbang.

Sebagaimana yang ditulis oleh Malcolm Gladwell[1], fenomena lain yang dikaitkan dengan konsumsi lemak berlebih pada anak-anak menjelang remaja putri, adalah usia pertama menstruasi atau orang medis biasa menyebutnya dengan menarche, menjadi semakin lebih muda. Dalam buku “What the Dog Saw” tersebut Malcolm Gladwell menceritakan seorang pakar kedokteran yang bernama Strassman yang menyelidiki pola menstruasi wanita pada suku Dogon di Mali Afrika. Dalam usahanya untuk mendalami perilaku dan sikap suku itu terhadap menstruasi wanita, sengaja Strassman dan rekannya menginap dan berbaur dengan kehidupan sehari-hari suku itu dalam periode waktu tertentu hingga ia mendapatkan informasi yang utuh dan memadai. Strassman terselamatkan dari hidangan istimewa suku itu yaitu memakan tikus panggang, yang digambarkan bagaimana kumis tikus itu hangus. Dalam kepercayaan suku itu, orang asing tidak boleh makan makanan suku asli, sehingga dia terbebas dari “kewajiban” memakan tikus panggang.

Kembali pada penyelidikan sikap suku Dogon terhadap menstruasi pada wanita. Terlepas dari apa pun alasannya, dalam suku Dogon, setiap wanita yang sedang menstruasi dikumpulkan dalam satu rumah khusus. Jadi wanita yang sedang menstruasi dalam berbagai usia pada saat malam tidur di rumah khusus itu hingga pagi harinya. Pola ini terus berlangsung hingga menstruasi mereka berhenti. Keadaan ini membuat Strassman lebih mudah melakukan interview, mengumpulkan sampel air kencing serta mencatat segala sesuatu yang berkaitan dengan menstruasi pada suku Dogon tersebut. Yang menarik dari hasil pengamatan Strassman, di suku Dogon, rerata menstruasi pertama pada usia sebelas tahun, dan seumur hidupnya wanita suku Dogon mengalami menstruasi seratus kali. Keadaan ini berbeda dengan yang didapati di barat dengan pola makan lebih banyak lemak dalam makanannya, dimana menarche (menstruasi untuk pertama kali) pada usia lebih muda yaitu usia 9 tahunan, dan sepanjang hidupnya mengalami menstruasi sebanyak tiga ratus lima puluh sampai empat ratus kali. Lebih lanjut pola menstruasi seperti di barat meningkatkan risiko kanker rahim, kanker payudara dan kanker indung telur.

Jadi secara sederhananya dapat dikatakan pola menstruasi barat yang meningkatkan risiko kanker rahim, kanker indung telur dan kanker payudara berawal dari kesalahan manajemen perut karena memasukkan makanan yang tidak berimbang.

Mengejar untung dengan “meracuni” makanan

Selanjutnya dikatakan bahwa, perut merupakan organ yang berbentuk bejana yang terus saja menerima berbagai macam benda atau zat yang dimasukkan kepadanya. Akhir-akhir ini dalam industri makanan berbagai macam essence membuat makanan yang dihasilkannya menjadi menarik dan meningkatkan cita rasa dan selera makan. Namun sayangnya banyak perusahaan yang nakal memasukkan bahan-bahan makanan yang membahayakan ke dalam makanan yang dijual. Demi mengejar keuntungan besar sebagian perusahaan yang bergerak dalam usaha makanan menyediakan bahan makanan yang berkualitas rendah kedalam produk makanan mereka. Sebagian memasukkan pewarna tekstil yang murah tetapi menghasilkan warna yang menggugah selera ke dalam makanan. Sebagian lagi memasukkan pemutih atau pencerah makanan ke dalam makanan gorengan sehingga gorengan berkesan bersih dan cerah. Sebagian lagi dalam produksi memasukkan bahan-bahan yang tidak layak untuk dikonsumsi manusia, seperti udang busuk yang sudah ditumbuhi larva lalat, menambah dedak, atau formalin dan boraks. Bahkan rokok pun yang jelas merugikan kesehatan tidak luput dengan pemakaian essence dalam racikan sausnya. Ironisnya semua ini termasuk makanan yang disukai, dan masih kurangnya pendidikan kesehatan mengenai bahaya makanan yang berkualitas rendah seperti itu.

Berkaitan dengan essence ini, saya memunyai pengalaman menarik. Di suatu siang yang sangat terik, saat itu saya sedang menunggu perbaikan sepeda motor saya di bengkel resmi merek perusahaan penghasil sepeda motor itu. Kebetulan bengkel itu berada di dekat orang yang berjualan es dan dekat dengan sebuah sekolah menengah kejuruan. Karena suasana panas, saya tergoda untuk membeli es degan yang dijajakan oleh penjual es tersebut. Saya meneguk pada tegukan pertama, terasa ada yang aneh dari rasa es degan tersebut. Aroma vanila dari sirup memang sedap, tetapi saat merasuki sela-sela serabut lidah, terasa sensasi pahit dan aneh. Tapi saat itu tetap saya teruskan minum hingga tetes terakhir. Kemudian pulang menjalani kehidupan seperti biasa. Malam harinya baru terasa, tenggorokan sakit buat menelan, badan demam dan pegel-pegel. Pendek cerita saya menderita radang tenggorokan dengan sebab essence rasa manis dari es degan yang saya konsumsi di siang harinya.

Pada makanan sehat pun juga tidak luput dari pengelolaan makanan yang berkualitas rendah. Secara alami sayuran yang dibudidayakan manusia tidak luput dari hama serangga. Untuk itu diperlukan obat-obatan dalam bentuk semprotan untuk membasmi serangga. Dengan alasan lebih murah sebagian petani atau produsen produk-produk pertanian disinyalir masih menggunakan DDT sebagai pestisida / pembunuh serangga. Yang menjadi keprihatinan kita adalah bahwa waktu paruh DDT ini lebih dari lima tahun bahkan masih bisa bertahan dalam tubuh manusia hingga puluhan tahun. Karena karakteristiknya yang seperti itu, maka seseorang yang mengonsumsi sayuran dan masih mengandung sisa DDT dalam sayuran pada tubuhnya dalam jangka waktu yang panjang akan terakumulasi DDT yang mungkin dalam dosis membahayakan kesehatan tubuh. DDT yang lama masih belum terurai, terus dan terus ditambah DDT baru sebagai akibat konsumsi sayur atau buah-buahan yang mengandung sisa DDT.

Di dunia peternakan pun sebagai sumber makanan hewani yang dikonsumsi manusia saat ini tidak luput dari hal-hal yang berbau instan dan serba cepat. Saya bisa berkata demikian, karena bapak saya juga beternak ayam broiler atau ayam potong. Kalau mau jujur ayam broiler atau ayam potong yang siap dikonsumsi ini dari sudut pandang usia, termasuk dalam kategori ayam “anak-anak”. Dikatakan “anak-anak” karena kalau dibiarkan terus hidup dalam arti tidak disembelih, dalam usia dua tahun tinggi ayam ini bisa mencapai satu meter. Karena “dikejar jam tayang” agar pada usia tiga bulan bisa dipanen, sedangkan ayam ini masih kanak-kanak yang belum sempurna sistem pertahanan tubuhnya, pada saat yang sama mereka dibesarkan tanpa asuhan induk, maka harus dijaga ketat kesehatan dan ketahanan tubuhnya. Untuk itu anak-anak ayam ini digelontor dengan multivitamin, diberi antibiotik bila sakit, bahkan keadaan ini masih terus dipertahankan saat siap “dipanen”. Dapat dibayangkan dalam tubuh anak ayam yang disembelih ini masih terdapat sisa antibiotik dan multivitamin “dosis tinggi”, kemudian dikonsumsi manusia. Walaupun saya belum menjumpai penelitian yang mengukur dosis antibiotik atau multivitamin dalam darah manusia yang mengonsumsi ayam “instan” potong ini, secara logika dapat dikatakan mengonsumsi ayam “instan” potong dalam taraf tertentu sama dengan mengonsumsi antibiotik dan multivitamin. Namun demikian, belum jelas data mengenai dampaknya pada kesehatan manusia secara luas.

Sikap tidak bertanggung jawab terhadap perutnya sendiri

Suatu malam tiga orang laki-laki yang sudah akrab menjalankan aktivitas rutin mereka untuk menghabiskan malam nan larut hingga pagi hari. Malam itu begitu berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Bila malam-malam sebelumnya aktivitas perjudian mereka, yang dipertaruhkan adalah sejumlah uang atau barang-barang berharga lainnya, terkadang bila perlu mengambil barang berharga yang esok harinya membuat beberapa tetangga mengeluh kehilangan barang karena dicuri. Tetapi malam itu, yang mereka pertaruhkan adalah meminum tape olie. Tape olie? Mungkin anda sama dengan saya terkejut mendengar tape olie diminum. Yah itulah kenyataannya. Pagi harinya seluruh desa dibuat heboh, terperanjat dan tidak percaya dengan yang terjadi. Dua orang dari mereka tewas, sementara satu orang bisa terselamatkan atas izin Allah SWT, walaupun harus dirawat di bagian perawatan intensif / Intensive Care Unit (ICU) selama beberapa hari. Satu orang yang lolos dari peristiwa maut itu, setahun berikutnya tidak dapat lolos dari maut, ketika sebuah truk besar blong remnya sehingga terhempas ke kanan dan kiri melibas tiang traffic light termasuk satu orang yang sebelumnya lolos dari maut minum tape olie.

Barusan, kita lihat contoh ekstrim orang yang tidak bertanggung jawab terhadap perutnya sendiri. Dalam taraf yang lebih ringan, masing-masing kita minimal memulai dengan penuh kesadaran ketika akan mengonsumsi sesuatu makanan atau minuman dan dampaknya bagi kesehatan dirinya baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Bagaimanapun juga tubuh kita memunyai hak sekaligus kewajiban kita untuk memenuhinya, karena ia akan dipertanggungjawabkan kelak di hari pembalasan.



[1] Malcolm Gladwell; 2009; What the Dog Saw and other adventure; edisi Indonesia, 2010 What the Dog Saw dan Petualangan-petualangan Lainnya, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Sabtu, 19 Februari 2011

Tahukah Anda Berapa Banyak Kolesterol Yang Aman untuk Anda Konsumsi Hari Ini?

Bagi Anda yang saat ini berusia menginjak 40 tahun atau lebih, secara fisik terlihat mulai meninggalkan dunia hitam (maksudnya warna rambut sudah mulai meninggalkan warna hitam menuju ke-putih-an) perlu Anda perhatikan dengan seksama kadar kolesterol berbagai makanan berikut:

Kandungan kolesterol beberapa bahan makanan

Setiap 100 gram bahan

Kolesterol (mg)

Susu sapi cair

11

Daging ayam

60

Daging sapi, kambing, babi, ikan

70

Susu bubuk penuh (full cream)

85

Lemak babi

95

Keju

100

Udang

125

Mentega

250

Hati

300

Telur

550

Otak

2000

Beberapa catatan penting yang HARUS diperhatikan

1. Bagi mereka yang kadar kolesterol darahnya tinggi, tetapi kadar trigliserida normal atau agak tinggi maka konsumsi kolesterol sehari tidak lebih dari 300 mg, lemak dibatasi sedangkan karbohidrat tidak dibatasi

2. Bagi mereka yang kadar trigliserida darahnya tinggi, tetapi kadar kolesterol normal atau agak tinggi maka konsumsi lemak, karbohidrat dan kolesterol dibatasi (konsumsi kolesterol 300 – 500 mg sehari)

3. Asupan kalori sesuai kebutuhan dalam hal ini tergantung aktivitas harian, untuk asupan protein tidak dibatasi seperti putih telur, tetapi dianjurkan banyak mengonsumsi makanan yang berserat

4. Makanan / minuman yang manis seperti sirup, dodol dan es krim mulai dibatasi, sedangkan daging tak berlemak tidak lebih dari 100 gram atau 1 ons satu harinya

Salam sehat dan semoga bisa menjaga amanah kesehatan sebaik-baiknya... amin

Rabu, 16 Februari 2011

"Road map" peristiwa perceraian



Pada gambar, terlihat bahwa secara umum permasalahan-permasalahan utama yang mengikuti peristiwa besar perceraian ada tiga tahap :
1. Pra – perceraian
2. Jatuhnya talak/cerai yang sah secara hukum dan administrasi negara
3. Keputusan-keputusan penting pasca perceraian
Bahasan berikut mencoba untuk memerinci permasalahan beserta kemungkinan-kemungkinan tindakan preventif pada tingkat tersier apa yang bisa diusahakan untuk meminimalisir dampak-dampak buruk dari peristiwa hidup yang sangat menekan, yakni perceraian.
Masa pra – perceraian
Pada masa ini, merupakan gejala “prodromal” (pendahuluan) yang tampak sebelum terjadinya perceraian secara resmi dijatuhkan. Ada dua permasalahan utama (tidak menafikan munculnya permasalahan lain), yaitu :
a. Konflik yang berkepanjangan
b. Fungsi-fungsi keluarga yang terganggu
Konflik berkepanjangan bisa disebabkan berbagai sebab, yang akhirnya menjadi sebab terjadinya perceraian seperti yang terlihat dalam bab 1. Konflik berkepanjangan ini secara langsung berakibat pada hubungan, peran dan fungsi dari suami/ayah, anak, istri/ibu. Lebih lanjut akan mempengaruhi pola pengasuhan orang tua anak yang tidak baik, yang berujung pada fungsi keluarga yang tidak baik pula. Selanjutnya akan mempengaruhi optimalisasi proses tumbuh kembang dan pemantapan kematangan multiaspek bagi orang tua sendiri.
Pendekatan pada tahap ini sama dengan pendekatan keluarga yang tidak harmonis, yaitu mediasi pernikahan atau adanya pihak penengah dan/ atau wali. Dokter atau psikolog bisa melakukan peran ini, dengan penambahan pengetahuan dan keterampilan khusus.
Jatuhnya talak / cerai yang sah secara hukum dan administrasi negara

Pada fase inilah seringkali permusuhan antara suami istri yang paling sengit terjadi. Ada dua hal yang seringkali menjadi sumber permusuhan yaitu
a. Pembagian harta gono-gini
b. Siapa yang diberikan tanggung jawab pengasuhan anak.

Walaupun pada tahap ini domainnya adalah masalah hukum dan administrasi, tetapi masih dibutuhkan peran ahli yang memahami psikologi anak, terutama dalam menjelaskan apa yang terjadi pada orang tua mereka. Sangat ditekankan di sini bagi kedua orang tua biologis anak adalah perpisahan ini tanpa diiringi dengan permusuhan. Dan anak masih mempunyai hak untuk mengakses kedua orang tua biologis mereka.

Keputusan-keputusan penting pasca perceraian
Setelah keputusan cerai sah secara hukum dan administrasi negara, secara umum ada dua keputusan penting untuk melanjutkan kehidupan yang harus dilalui, yaitu :
1. Tidak menikah / orang tua tunggal
2. Menikah kembali
Dua keputusan ini mempunyai konsekuensi yang sama berat. Setidaknya ada dua konsekuensi yang harus diperhatikan berkaitan dengan pengambilan dua keputusan penting di atas, yaitu :
1. Reposisi peran dan fungsi
2. Perubahan jejaring sosial dan finansial
Keputusan untuk tidak menikah
a. Reposisi peran dan fungsi
Reposisi yang penting adalah menjadi orang tua tunggal, terutama bagi ibu, yang dalam kompilasi hukum Islam Pengadilan Agama, asal ibu tidak mempunyai masalah yang berarti, dan anak masih di bawah 12 tahun, ditunjuk mendapat tanggung jawab pengasuhan anak. Atau bila ibu bermasalah, dan anak yang di atas 12 tahun memilih ayah sebagai penanggung jawab pengasuhan, dalam hal ini ayah yang memilih tidak menikah lagi berperan sebagai orang tua tunggal.
Orang tua tunggal baik ibu mengasuh anak, maupun ayah yang menanggung pengasuhan anak, adalah peran baru yang lebih kompleks. Sebelumnya ada pembagian tanggung jawab, pada saat ini semuanya ditanggung “sendiri”, butuh reposisi peran dan fungsi untuk beradaptasi dengan keadaan baru. Permasalahan bagi anak adalah bagaimana bisa memahami perpisahan orang tua mereka, dan bisa lebih memfokuskan diri pada masa depan mereka, bukanlah perkara yang mudah.
Dokter, psikolog, pekerja sosial dan agamawan mempunyai peran disini mendampingi proses reposisi peran, baik bagi orang tua tunggal dan anak-anaknya.
b. Perubahan jejaring sosial dan finansial
Perceraian mempunyai dampak bagi “hilangnya” sebagian jejaring yang merupakan “andil” dari pasangan yang pada saat ini sudah tidak lagi bersamanya. Jejaring ini mempunyai andil dalam memberikan dukungan sosial maupun finansial, baik secara langsung maupun tidak langsung. Contoh jejaring ini misalnya relasi bisnis, teman yang mempunyai akses ke peluang kerja dan saudara menjadi “berkurang” bersama perginya pasangan dari “struktur” baru keluarga. Keluarga besar, teman-teman dekat pasangan diharapkan memberikan dukungan melebihi dari biasanya. Juga, pasangan yang kini menjadi orang tua tunggal harus menghilangkan rasa malu dan semua rasa yang tidak enak ketika mendapatkan dukungan yang lebih dari saudara dan teman-teman dekat.
Keputusan menikah lagi
a. Reposisi peran dan fungsi
Menikah lagi juga bukan permasalahan yang mudah. Bila pasangan baru ini masih perjaka atau gadis, akan mengundang “stigma” menikah dengan janda atau duda yang tidak mudah dihilangkan begitu saja, terlebih bila pasangan pasca bercerai ini membawa anak. Tiba-tiba saja si perjaka atau gadis ini berstatus menjadi orang tua. Dan bagi anak yang ikut, dia harus menyesuaikan diri dengan ayah atau ibu “baru” mereka. Status ayah atau ibu tiri beserta “stigma” kurang sayang dengan anak-anak “tiri” juga menjadi halangan yang tidak mudah disingkirkan begitu saja. Bila ada masalah dalam interaksi antara mereka akan semakin memperkuat “stigma” ini.
Relatif lebih mudah bila sama-sama tidak membawa anak. Atau lebih rumit lagi bila sama-sama membawa anak dalam “keluarga baru” mereka.
Karenanya perlu peran dari konsultan keluarga yang tampaknya belum ada di negara kita.
b. Perubahan jejaring sosial dan finansial
Secara struktur dengan menikah kembali, terdapat penambahan “jejaring” baru dari pasangan yang baru dinikahi, tetapi juga terdapat pengurangan “jejaring” lama dari pasangan yang telah diceraikan. Permasalahannya adalah bagaimana mengelola jejaring itu bisa bertahan. Setidaknya secara struktur lebih menguntungkan bagi mereka yang menikah lagi dalam hal jejaring. Sehingga dukungan sosial dan finansial lebih baik bagi yang menikah lagi ketimbang yang tetap sendiri menjadi orang tua tunggal